PERILAKU TERCELA: HASUD

Allah SWT berfirman,

Artinya: “Katakanlah ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya dan. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki’”

 Dalam surat ini disampaikan agar manusia berlindung kepadaNya dengan mengingat dengki.

 Abdullah bin Mas’ud mengatakan baha Nabi Muhammad SAW bersabda ,

“Ada tiga hal yang menjadi dasar (pangkal) setiap kesalahan, maka jagalah dan hindarilah. Pertama hindarilah olehmu sombong karena kesombonganini telah membawa iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam AS. Kedua,hindarilah olehmu sifat tamak karena tamak ini telah menjadikan Adam AS memakan pohon khuldi.  Ketiga, takutlah kamu akan sifat dengki karena kedua anak Adam salah satunya telah membunuh yang lain disebabkan oleh dengki”. Menurut sebagian ulama  bahwa orang yang selalu dengki adalah orang yang selalu ingkar karena tidak rela kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan. Menurut yang lain, orang yang dengki tidak akan dapat dihitamkan (dihilangkan). Menurut sebagian ulama , kata dengki dikutip dari firman Allah Ta’ala

Artinya: “Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar  hak manusia tanpa alasan yang benar,  (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’”

  Menurut pendapat yang lain bahwa yang dimaksud “yang bathin” dalam ayat ini adalah dengki. Dalam sebagian kitab dijelaskan bahwa orang yang dengki adalah orang yang membenci kenikmatan. Menurut satu pendapat, bekas (pengaruh) dengki akan nampak sebelum nampaknya permusuhan.

  Menurut satu pendapat, orang yang dengki adalah orang yang lalim dan perampas. Dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan. Umar bin Abdul Azis mengatakan, “Saya tidak pernah melihat orang yang lalai lebih daripada apa yang dialami oleh orang yang dengki karena dia tertimpa kesusahan yang mendalam dan kehilangan jati dirinya secara berturut-turut”.

  Menurut sebagia ulama, sebagian tanda sifat dengki adalah menipu apabila berada di hadapan orang lain, Dn mengumpatnya apabila sudah pergi, dan mencaci maki apabila musibah tidak menimpa. Menurut Mu’awiyah bin Abu Sufyan, menghindari dengki dan membunuh sebelu didengki bukan termasuk bagian dari sifat dengki. Menurut yang lain, Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi Sulaiman bin Daud AS, “Aku berwasiat kepadamu mengenai tujuh hal. Diantaranya jangan mengumpat hamba-hambaKu yang saleh dan jangan mendengkinya”. Nabi Sulaiman menjawab, “Ya Tuhan, Engkaulah Dzat Ynag Memberi kecukupan kepadaku”.

  Menurut sebagian ulama, orang yang dengki adalah orang yang apabila melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, maka dia merasa bingung. Apabila orang lain mendapatkan kesengsaraan, dia mencaci maki.

  Menurut satu pendapat, orang yang dengki adalah orang yang tidak senang kepada orang lain yang tidak berdosa dan kikir terhadap sesuatu yang tidak dimiliki. Oleh karena itu, terdapat ungkapan, ‘Jangan mengharap cinta kasih kepada orang yang  mendengkimu. Dia tidak akan menerima uluran baikmu’.

MENEPIS DENGKI, MEMBANGUN KESABARAN

Dengki atau sirik atau hasud itu tidak sekedar dosa biasa, bahkan dianggap bahaya, karenanya harus dijauhi. Dalam Al-Qur’an sendiri dalam surat al-Falaq, Allah memerintah Nabi Muhammad untuk berlindung dari tindakan penghasud. Ini cukup menunjukkan betapa bahayanya tindakan hasud tersebut. Mengapa hasud itu sangat berbahaya? Pertama, bermula dari ketidaksenangan terhadap kebahagiaan seseorang, biasanya hasud lantas diiringi dengan keinginan mencelakakan orang tersebut. Kedua, ia merupakan serangan sepihak, tanpa orang yang dihasud tahu kapan dan dari mana asalnya serangan. Serangan sepihak seperti ini tentu lebih bahaya, karena pihak yang diserang tidak punya persiapan untuk balas melawan atau bertahan. Serangan di sini tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, tapi bisa juga berujud fitnah. Ketiga, di samping berbahaya bagi orang lain, hasud adalah sumber kesengsaraan bagi diri penghasud.

  Rasulullah bersabda: “Jauhilah olehmu semua kedengkian, sebab kedengkian itu memakan segala kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar yang kering.” Ini artinya, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan tidak ada artinya jika kita masih suka menghasud. Jelasnya demikian: karena hasud itu merupakan rasa ketidaksenangan atas kebahagiaan orang lain, dan bahkan bisa diiringi dengan tindakan yang mencelakakan orang tersebut, maka sebenarnyalah hasud itu membuktikan bahwa kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan itu hanya bohong-bohongan belaka. Karena hati kita ternyata masih menyimpan keinginan (bahkan rencana-rencana) mencelakakan orang lain. Hasud, dengan ungkapan lain, adalah membangun kebahagiaan diri kita di atas kesengsaraan orang lain, dan sebaliknya, kesengsaraan diri kita atas kebahagiaan orang lain.

   Sekarang yang terpenting mengetahui kenapa sampai timbul hasud (iri, dengki, dan semacamnya)? Sebab utama munculnya hasud adalah ketiadaan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah yang kita terima. Kita selalu saja beranggapan “the grass over the fence always looks greener” (rumput di ladang orang lain selalu nampak lebih hijau), orang lain senantiasa lebih banyak kenikmatannya dari kita.

Akibatnya muncul rasa rendah diri, rasa tidak percaya diri disertai iri, dengki, lalu hasud. Ini senada dengan penegasan Allah : “Dan ingatlah ketika Tuhanmu sekalian menegaskan, jika kamu benar-benar bersyukur maka pasti Aku akan tambahi (karunia) bagi kamu, dan jika kamu benar-benar ingkar maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim/14:7) Kalau kita pandai-pandai mensyukuri nikmat yang kita terima maka kenikmatan akan terus bertambah, dan sebaliknya, kalau tidak kesengsaraan terus bertambah. Baik kenikmatan dan kesengsaraan di sini tidak harus langsung berujud materi, tapi rasa, sikap, dan nuansa batin. Kita sepenuhnya sadar, siapapun tidak akan sukses dunia-akherat tanpa rasa percaya diri, optimis, bahagia/senang (atas nikmat yang kita terima atau yang diterima orang lain), semangat, dan semacamnya. Dan yang menjadi pangkal kegagalan adalah adanya penyakit-penyakit batin: rasa tidak percaya diri, pesimis, iri, dengki, dan semacamnya. Yang terakhir, teruslah berdoa mohon ampunan Allah, mohon agar dikaruniai ketulusan, mudah mensyukuri nikmat yang kita terima dan diterima orang lain, agar dihindarkan dari rasa/sikap dengki, iri, hasud, dan sikap-sikap negatif lainnya, dan sebaliknya agar dikaruniai sikap-sikap positif. Perlu saya tegaskan, doa itu tidak harus dipanjatkan dengan bahasa Arab, tapi yang penting adalah kita tahu apa yang kita panjatkan disertai hati khusyuk dan memelas. Allah Maha Tahu apa yang terlintas dlm hati kita.

  4. Tentang kesabaran, “kesabaran” itu menempati spektrum yang luas. Sabar atas cobaan dan penderitaan, sabar atas datangnya musibah, sabar menjalani program-program yang telah direncanakan sampai mencapai target, sabar menunggu teman, dll. Singkatnya, kesabaran itu tidak hanya musti dikerahkan pada saat-saat tertimpa duka saja, tapi juga saat-saat suka. Kita perlu kesabaran ketika mengalami saat-saat suka agar kita tidak terlena dengan kesuka-riaan kita. Dan perlu diketahui, kesabaran itu adalah sikap yang amat terpuji. Nabi Muhammad saw sendiri dalam sebuah ayat diperintahkan untuk bersabar dan dilarang memohon pada Allah untuk menyegerakan siksa bagi musuh-musuhnya: “Maka bersabarlah kamu seperti sabarnya para Rasul yang mempunyai keteguhan hati dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS. 46:35) Dan banyak ayat-ayat lain yang menegaskan betapa pentingnya sikap sabar itu. “…dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. 8:46) “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. 11:115)

Materi ini diselesaikan oleh:

DWI ANDHIKA PUTRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s