Ku Bangga Cita Rasa Indonesia (Cerpen)

Cerpen ini adalah karya saya sendiri dan telah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional – Festival Sastra 2013 oleh KMSI Universitas Gadjah Mada tanggal 3 Mei 2013. Segala bentuk penggandaan tanpa izin demi kepentingan pribadi maupun publik dianggap melanggar HaKI.

Ku Bangga Cita Rasa Indonesia

Oleh Helmi Airan

Courtesy: Getty Images

Courtesy: Getty Images

        Hidup mewah, bergelimpangan harta, dan semua hal yang membuat kehidupan lebih mudah adalah impian banyak orang, terutama masyarakat Indonesia. Tidak semua orang bisa hidup seperti itu. Namun, di tengah-tengah padatnya ibukota, berdirilah rumah megah yang dihuni oleh seorang perawan muda. Tidak pernah sedikitpun ia merasakan kekurangan dalam hidupnya. Tiap malam ia selalu menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama teman-temannya di sebuah klub malam di ibukota atau kalau tidak, mungkin menghabiskan malam itu di sebuah restoran mewah bercorak internasional. Mungkin ia menganggap ini wajar, sebab sudah seharian penuh ia bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan multinasional. Hal ini membuatnya sedikit depresi ketika tiap hari, dia harus berkutat dengan kertas dan banyaknya telepon berdering di meja kerjanya.

            Sebut saja dia, Resti. Meskipun masih muda, ia sudah mampu membangun istana megahnya sendiri dengan pundi-pundi yang ia mampu kumpulkan dari hasil kerjanya selama ini sebagai seorang sekretaris muda. Malam itu, ia siap bergegas pulang, tapi ia sadar bahwa ia belum sempat makan malam. Oleh karena itulah dia mengajak salah satu teman di kantornya untuk makan malam bersama. Mereka meluncur di jalanan malam ibukota yang penuh gemerlap cahaya, mengalahkan gemerlap bintang-bintang nan indah di angkasa. Mobil yang mereka kendarai pun akhirnya berhenti di salah satu rumah makan Padang di Jalan Padang Jaya.

            “Loe gak salah makan di sini? Gue anti yang namanya masakan Indonesia. Lanjut aja!” kata Resti.

            “Apa salahnya sih? Sekali-kali kita coba masakan Indonesia, biar gak yang internasional melulu yang kamu cicipi,” kata temannya, Enny.

            “Gak ah! Gue ogah sama masakan yang begituan. Apalagi ini di pinggir jalan yang berdebu, bau… ihhh enggak deh,” geram Resti.

            “Udah ayo turun! Nyesel kalau lu sampai gak makan di sini” ucap Enny.

           Seketika itupun, Enny mengajak Resti makan malam di rumah makan Padang itu. Interior rumah makan itu memang tidak seperti tempat biasanya Resti mengisi perutnya yang meronta-ronta untuk diisi makanan. Hanya ada meja kayu yang lusuh dan tempat duduk plastik. Cahayanya pun tak seterang restoran biasanya ia kunjungi.

            “Nasi Padangnya dua ya mas,” ucap Enny ke salah satu pelayan yang sudah menunggu di sebelah meja mereka.

            “Minumnya apa?” tanya sang pelayan.

            “Lu minum apa Res?” tanya Enny ke Resti

            “Ehmm… milkshake chocolate ada gak?” tanya Resti dengan nada sombong.

            “Lu kira itu minuman asli Indonesia apa? Jangan blagu deh Res. Es teh dan es jeruk adanya,” jawab Enny tegas.

            “WHAT??!!… restoran apa yang gak ada milkshakenya, ha?! Udah gue pergi aja deh

            “Hei Res!! Lu harus coba dulu makanan Padang! Jarang-jarang kan anak seperti loe makan makanan yang asli cita rasa Indonesia,” ucap Enny.

            “Sori En! Gue gak mau!! Udah deh gue cabut aja dari sini,”

           Resti langsung pergi meninggalkan Enny yang masih bingung dengan perilaku temannya itu. Pergi meninggalkan Enny dan masuk ke dalam taksi yang ia panggil.

            “Taksi!! Kemang ya pak” ucap Resti ke sang supir. Di sanalah, Kemang, ia menghabiskan malamnya sendiri dan masih marah terhadap Enny yang tiba-tiba mengajaknya ke rumah makan Padang.

            “Mimpi apa gue semalam?” tanya Resti pelan kepada dirinya.

            Tahun demi tahun berjalan dengan cepat. Resti pun mendapatkan promosi sebagai seorang manager di perusahan di mana ia bekerja selama ini. Suatu ketika ia diharuskan pergi ke sebuah kota di benua Eropa, namanya London. Beribu-ribu kilometer harus ia tempuh demi urusan pekerjaan. Bagi Resti, ini adalah pengalaman pertamanya untuk bisa pergi ke London.

           Ia akan melakukan presentasi di hadapan para manager muda dari seluruh dunia. Ia sedikit merasa gugup, namun ia yakin harus bisa menghadapinya. Sesampainya di terminal bandara Heathrow, ia langsung dijemput oleh mobil khusus untuk dirinya pribadi. Beberapa menit ia tempuh, melewati jalanan di kota itu, dan sampailah di tempat ia menginap untuk beberapa hari kedepan.

            Esoknya ia menemui berbagai rekan kerja yang berasal dari beragam bangsa. Di situlah ia melakukan presentasi, di hadapan banyak orang dari berbagai dunia.

           Beberapa menit sudah terlewati, dan pada akhir sesi, kejadian yang tak pernah diduga sebelumnya terjadi.

            “What is the special food of Indonesia1?” tanya pria Perancis berkemeja hitam yang duduk di tengah audien. Resti pun dibuat pusing dan gugup oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh pria Perancis itu. Namun, ia ingat saat itu ia pernah diajak oleh temannya, Enny ke rumah makan Padang yang terletak di pinggir jalanan ibukota, maka ia pun menjawab.

            “Masakan Padang,” jawabnya dengan gugup tapi meyakinkan.

            “How does it taste like2?” tanya audien lain. Hal ini semakin membuat keringat dingin bercucuran dari wajahnya yang tak tau seperti apa jawaban yang harus ia lontarkan, karena ia memang tidak pernah mencicipi masakan Padang. Dengan sedikit ide yang tiba-tiba muncul di benak kepalanya, ia berkata,”You should try it by yourselves, guys. There are lots of kinds of Indonesian food. Have a visit Indonesia, then3!”

           Setelah presentasi itu berakhir, Resti merasa lega. Ia merasakan sedikit kebebasan yang sangat ia idamkan, meskipun pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan hidup ataupun matinya. Resti pun menghabiskan sisa malamnya di London untuk berjalan-jalan santai di Trafalgar Square, sebuah alun-alun kota yang sangat ramai oleh para wisatawan dan penduduk lokal di kala malam hari tiba.

       “Andai saja kota Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia sebersih dan seindah di sini,” katanya dalam hati. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke kompleks restoran yang berjejer di kiri dan kanan jalan sempit. Ia bisa melihat banyak jenis restoran, mulai dari restoran masakan China, Eropa, India, Amerika. Ia merasa bahwa ia sudah pernah mencoba masakan itu.

          Ia pun ingin merasakan masakan yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Akhirnya ia melihat sebuah restoran di akhir jalan yang ia lewati dan banyak orang yang nampaknya antre di depan bangunan kecil itu. Ia melihat papan yang terpampang di depan restoran itu dan betapa terkejutnya ketika ia sadar bahwa tulisan di papan itu menyebut ‘Rumah Makan Bu Ida – Indonesian Restaurant’.

            Entah angin apa yang tiba-tiba memanggilnya untuk masuk ke dalam restaurant mungil itu. Ia masih terkejut akan keberadaan restauran asli Indonesia di kota modern London. Ia akhirnya masuk setelah beberapa menit antre. Ia pun duduk di sebuah kursi empuk yang berada di pojok dekat jendela. Yang mencengangkan lagi adalah ketika lagu-lagu keroncong asli Jawa diputar dan menemani siapa saja yang makan di situ.

          Resti memesan beberapa masakan khas Indonesia, meskipun ia sedikit ragu akan rasanya. Semanggi Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Nasi Pecel Kediri, Ayam Betutu Bali, dan Teh Hangat menjadi menu pilihannya saat itu. Setelah semuanya sudah di atas meja, Resti mencoba mencicipi satu persatu makanan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia sadar kalau masakan Indonesia tidak kalah enaknya dengan masakan asing. Selama ini ia merasa bodoh karena menganggap masakan Indonesia adalah masakan yang tidak ada nilai di matanya. Sejak itulah ia mulai menyukai masakan Indonesia dan ia bangga karenanya.

            Esoknya ia kembali ke tanah air. Di bandara Soekarno-Hatta, teman-teman Resti, termasuk Enny sudah menunggunya di sana. Tak lama setelah menunggu, Resti pun muncul dari pintu keluar. Mereka meluapkan rasa kangen dengan pelukan hangat satu sama lain.

            “Lu kelihatan semakin keren, Res,” kata salah seorang teman Resti.

            “Ngomong-ngomong, selama di London, siapa sih yang lu kangenin?” tanya Enny.

            “Gue kangen… kangen… masakan Indonesia!!” jawab Resti dengan semangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.■

1Apa makanan khas dari Indonesia?

2Bagaimana rasanya?

3Kalian harus mencobanya sendiri. Ada banyak jenis makanan khas Indonesia. Ayo kunjungi Indonesia!

©2013

Advertisements

Ku Tau Siapa Engkau (Cerpen)

Cerpen ini adalah karya saya sendiri dan telah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Se-Universitas Negeri Malang Raya tanggal 18 Maret 2013. Segala bentuk penggandaan tanpa izin demi kepentingan pribadi maupun publik dianggap melanggar HaKI.

Ku Tau Siapa Engkau

Oleh Helmi Dana B.A.

Courtesy: Getty Images

Courtesy: Getty Images

            Rintik-rintik hujan menerpa tubuhku dengan lembutnya. Namun yang aku tunggu tidak kunjung datang. Atau mungkin tak akan pernah datang ‘tuk selamanya. Hingga pada akhirnya bus terakhir dari kota Jakarta tiba di terminal. Entah apa atau siapa yang aku tunggu tapi aku tetap tertahan disitu hingga segalanya menjadi tenang tak bersuara.

            “Mas, nunggu siapa? Kok bengong daritadi di sini?” tanya seorang lelaki tua yang berperawakan seperti seorang satpam di terminal itu.

            “Oh, ini nunggu taksi” balasku kepadanya.

            “Kalau taksi, nyarinya deket sana mas. Bukan di sini. Coba aja jalan ke sana”  jelasnya kepadaku. Akupun berjalan dengan tatapan kosong, menerawang dengan tidak jelas. Akupun masuk ke dalam salah satu taksi di situ.

            “Simokerto Utara ya pak” cetusku ke pak taksi. “Oh iya mas. Ngomong-ngomong ini tadi masnya datang dari kota mana? Kok malam….”.

            Samar-samar apa yang dikatakan pak taksi itu ke aku. Aku sendiri sibuk dengan segala pikiran yang ada di dalam kepala. Namun, pada akhirnya aku bisa menyusun kembali puzzle yang sempat tercecer itu.

Saat itu bel di sekolah berdering, ‘membangunkan’ jiwa-jiwa penerus bangsa untuk bergegas keluar ruangan kelas mereka dan pulang ke istana masing-masing. Aku sendiri waktu itu sangat senang apabila mengetahui bel sekolah berdering untuk terakhir kalinya di hari itu, meskipun aku bukanlah anak kecil yang memakai celana kedodoran berwarna merah dengan atasan putih dan dihias dengan dasi merah kecil. Aku bukanlah seperti itu lagi.

Karena knalpot sepeda motorku sedang diperbaiki di salah satu bengkel terdekat, aku meminta papa untuk mengantar dan menjemput aku di hari itu. Ternyata papa sudah duduk di sepeda motornya yang berwarna biru tua sambil sesekali melihat ke arah gerbang sekolah. Saat aku muncul, dia langsung menyalakan mesin sepeda motornya sambil berteriak,”Hei kesini!”

Langsung aku berlari ke arah papa yang berada di seberang jalan. Setelah mengepaskan apakah pantatku sudah dalam posisi pas di atas sadel sepeda motor, aku langsung bilang ke papa,”Udah jalan”.

            Aku sendiri adalah anak berusia delapan belas tahunan yang tengah duduk di bangku sekolah menengah atas. Harusnya berbeda dengan anak-anak kecil itu tapi entah mengapa aku sangat senang disaat waktu pulang tiba. Aku menyadari hal itu sebagai hal yang istimewa, sebab hari-hari terakhirku di sekolah menengah atas hampir usai namun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalananku untuk menempuh pendidikan 12 tahun kini tengah berada di ujung tombaknya. Di saat itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui dengan santainya tapi aku berusaha semaksimal yang aku bisa untuk lulus dari segala belenggu yang tengah menghadang.

            Di sisi lain, orangtuaku adalah sesosok yang protektif terhadap segalah tindakan yang aku ambil. Dalam hal ini, mereka menyemangati diriku untuk tetap dalam jalurnya. Segala jenis buku untuk mempersiapkan hajatan tahunan terbesar negara telah diberikan kepada diriku. Hingga pada akhirnya hari itu tiba.

            “Sebelum mengerjakan soalnya, usahakan berdo’a terlebih dahulu kepada Yang Kuasa agar diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujiannya”, pesan mamaku..

            Hal itulah yang selalu beliau ucapkan selama empat hari bertutur-turut hingga ujian berakhir. Suatu kelegaan yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, aku ingin melanjutkan studiku ke pendidikan yang lebih tinggi, atau orang-orang biasa menyebutnya ‘kuliah’. Karena hal itu, kedua orangtuaku berusaha mati-matian untuk bisa menyekolahkanku hingga Perguruan Tinggi.

            “Kalau kamu ingin kuliah, nggak usah dipikir. Biar mama sama papa yang mikir masalah itu. Yang perlu menjadi konsentrasi kamu adalah belajar dan belajar biar nantinya bisa membahagiakan mama dan papa” kata mama setiap menjelang maghrib. Namun, hal itu selalu menjadi hal yang selalu aku pikirkan.

            “Lho mama udah punya uang untuk biaya mengkuliahkan aku? Kan biayanya mahal” tanyaku dengan penuh perhatian.

            “Masalah itu nggak perlu kamu pikirin. Asal kamu tahu, ternyata papamu udah punya tabungan untuk menyekolahkan kamu lho” jawab mama dengan serius.

            “Sungguh ma? Tau darimana?” gembiranya aku kembali bertanya.

            “Ya pokoknya kamu belajar dengan rajin dan tekun, kita sebagai orangtua akan rela mengorbankan apapun demi anaknya” kata mama.

            “Tapi ma, papa kan orangnya agak cuek gitu dengan kondisi anak-anaknya. Segala hal yang berhubungan dengan keluarga aja agak cuek, apalagi hal yang yang mendetail seperti biaya sekolah?”

            Tapi sesungguhnya itu adalah nyata. Papaku sendiri adalah sesosok yang sangat keras dan cuek dengan kondisi sekitar. Segala hal yang berhubungan dengan kepengurusan rumah tangga seperti biaya listrik, air, dan biaya SPP dibebankan kepada sosok mama. Dia hanya menyerahkan uang gajiannya ke mama dan setelah itu segala ekonomi diatur oleh mama.

            Di sisi lain, ku juga bisa mengingat kebaikannya ketika ia menyumbangkan uang yang diperolehnya dari hasil kerja untuk sebagian disumbangkan ke anak yatim piatu. Hal ini tidak disadari oleh yang lain hingga suatu hari mama menemukan amplop yang berisi kwitansi yang menyatakan bahwa papa telah menyumbangkan sebagian hasil kerjanya ke sebuah yayasan yatim piatu di sebuah kota di Jawa Timur.

***

            Di saat pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, papa ternyata menghubungi mama apakah aku sudah mengirimkan uang transferan pendaftaran atau belum.

            “Uangnya sudah ditansfer belum untuk SNMPTN?” tanya papa ke mama lewat telepon. “Belum lah. Soalnya masih nunggu papa dulu. Dia belum pernah nyoba transfer” jawab mama.

            “ Ya udah nanti aja kalo aku udah sampai rumah, aku antar dia ke ATM terdekat” kata papa.

            Sesampainya di rumah, papa langsung mengajak aku ke ATM untuk mentransfer pembayaran SNMPTN. Belum sempat dia makan malam, papa langsung pergi dengan aku memakai sepeda motor birunya yang sudah kelihatan tua seperti pemiliknya.

            “Masukkin password dulu trus tinggal pilih menu transfer dan masukkan nomer rekening panitianya” jelas papa ke aku.

            “Oh iya aku paham” balasku sedikit cuek.

***

            Beberapa bulan setelah aku berhasil masuk Perguruan Tinggi yang aku minati, aku merasakan hal kesepian. Segalanya harus aku atur sendiri karena aku tidak lagi tinggal bersama kedua orangtuaku dan adik tercinta. Aku tinggal di sebuah kos di pusat kota Malang.

            Suatu hari aku meminta kiriman pulsa dari papa karena aku lagi hemat-hematnya dengan uang belanjaan yang dijatah tiap bulannya oleh mama. Kutulis melalui pesan singkat, “Tolong belikan pulsa 20rbu skg. Thx”. Tidak lama setelah itu, kiriman pulsa pun  masuk sesuai dengan nominal yang aku minta. Pernah aku meminta pulsa dengan nominal 50 ribu rupiah dan papa pun mengiriminya langsung seketika.

            Suatu saat, terlintas di benakku untuk memberikan kado di hari ulang tahun papa yang jatuh pada bulan depan. Aku tanya ke salah satu seorang teman dan ia menyarankan untuk beli jam tangan. Entah kenapa aku merasa dekat dengan papa akhir-akhir itu meskipun hubunganku dengannya tidak sebegitu dekat seperti diriku dengan mama.

            Esoknya aku memutuskan untuk membelikan batik saja di sebuah toko batik ternama dengan menggunakan uang yang telah aku tabung dari sisa uang belanja yang dijatah oleh mama. Kupilih dan akhirnya menemukan sesuatu yang cocok.

            Pada pekan itu, tidak pernah sekalipun aku menerima telepon dari keluarga di Sidoarjo. Pada akhirnya, bulan selanjutnya aku pulang ke Sidoarjo dan mendapatkan kabar bahwa papa tengah terbaring lemah di sebuah rumah sakit di tengah kota Surabaya. Setelah aku coba tanyakan apa yang tengah terjadi ke mama ternyata papa mengalami serangan jantung.

            “Kenapa gak hubungin aku kalau papa ada kenapa-kenapa??” tanyaku dengan agak kesal sambil meneteskan air mata. “Papamu tidak mau membebani kamu gara-gara penyakitnya. Dia takut kamu tidak konsentrasi kuliah, Nak” balas mama sambil meneteskan air mata.

            “Tapi aku juga berhak tahu. Emangnya aku ini siapa? Anaknya kan?”  dengan nada sedikit marah.

            Hari demi hari, kondisi papa tidak semakin membaik hingga pada akhirnya dokter memberitahu kita kalau umur papa bakal tidak lama lagi. Ku hanya bisa membeku dalam kondisi seperti itu. Tak tau apa yang harus aku lakukan.

            “Papa cepet sembuh ya. Aku pulang dari Malang kok dan sekarang ada di samping papa. Papa mau apa? Biar aku belikan. Besok adalah hari ulang tahun papa. Papa harus sembuh” kataku dengan terisak-isak. Tapi, tetap saja papa tidak bergerak.

            Hingga suatu saat elektrokardiograf papa pun berhenti di malam sebelum ulang tahunnya. Aku pun hanya bisa berteriak di dalam hatiku dan akhirnya hanya air mata ini yang bisa meluapkan segala yang tengah kurasa waktu itu. Seharusnya aku bisa merayakan ulang tahun papa esoknya dan memberikan kado berupa baju batik untuk dikenakannya. Tapi, itu semua hanya tinggal kenangan.

            Segala kebaikan dan perjuangannya selama ini kini hanya bisa dikenang dan dihargai. Senyumnya telah terkelupas dari dinding ruang kaluargaku dan mungkin aku akan merindukannya sangat dalam. Tak peduli ia cuek dengan keadaan sekitar tapi ia adalah sosok yang rela membanting tulang demi istri dan anak-anaknya. Kegigihannya itulah yang patut dicontoh meskipun dia tidak lagi di samping kami. Cintanya tidak akan pernah pudar dan sejak itulah ku tahu siapa sosok dia sebenarnya.

            Taksi yang aku tumpangi akhirnya sampai di depan rumah.

            “Kembaliannya untuk bapak aja” kataku.

            “Lho mas, ada kok kembaliannya, bentar” balas si sopir.

            “Udah gak apa pak. Kalau lihat kerja bapak yang sampai malam, mengingatkan aku kepada papaku yang tak pernah letih bekerja untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Aku sendiri belum sempat berterimakasih kepada beliau…dan satu hal yang aku ingat dari beliau… adalah banyak memberi daripada meminta…semoga dengan ini…aku bisa meniru seperti apa yang telah papa lakukan kepada orang lain” jawabku sambil mata berkaca-kaca.

            “Amin…  Makasih kalo begitu, mari mas” balas sopir itu dan taksinya pun meluncur di jalanan tengah malam yang penuh kabut.

            Akupun masuk rumah. Mama dan adikku tercinta sudah menunggu di dalam dan mungkin kenanganku dengan papa tetap ada di dalam rumah itu dan akan selalu ada di pikiranku selamanya.

©2013

Do Not Waste the Energy!

Siang itu Dicky baru saja pulang dari sekolah dan seperti biasanya setelah pulang sekolah ia melakukan aktivitasnya. Salah satunya adalah bermain komputer yang ada di kamar tidurnya.

Dari jam 12 hingga hari menjelang sore, Dicky tak henti-hentinya memainkan permainan yang tersedia banyak di dalam komputernya.

Namun Dicky memiliki kebiasaan yang sangat jelek, yaitu sering lupa untuk mematikan komputer setelah menggunakannya.

Berkali-kali mamanya menasehatinya untuk tidak lupa mematikan komputer seusai dipakai tapi tetap saja ia lupa untuk melakukannya.

Suatu kali setelah pulang dari sekolah, Dicky langsung main komputer miliknya. Sang mama terkadang kesal karena seharusnya Dicky makan siang dulu baru dia bisa bermain komputer.

“Dicky, ayo makan dulu Nak” perintah sang Mama. Sayangnya Dicky bersikap tak peduli dengan mamanya. Dengan asyiknya ia terus melanjutkan bermain komputer.

Akhirnya pada hari menjelang sore Dicky selesai bermain dan langsung tidur di kasurnya tanpa mematikan dulu komputernya. Saat itu Mamanya melewati depan kamar anaknya dan melihat Dicky tengah terlelap di atas kasurnya. Mamanya masuk dan melihat kalau komputer itu masih belum dimatikan seusai dipakai.

Pada malam harinya Dicky dan Papa serta Mamanya tengah makan malam. Seusai makan malam Dicky diajak ke ruang keluarga. Di sana Dicky dinasehati oleh kedua orangtuanya.

“Dicky kamu tau kan kalau komputer sangat memerlukan listrik agar bisa hidup. Dan listrik itu haruslah digunakan sehemat-hematnya. Jangan menggunakan listrik asal-asalan. Dan juga kalau sudah selesai memakai komputer kamu harus mematikannya!. Jangan sampai Mama yang mematikan komputer. Dicky kan sudah dewasa jadi Dicky harus mengerti donk. Iya kan?” kata sang Papa tegas.

“Iya Pa” sahut Dicky.

“Kalau Dicky tidak mau mematikan komputer sesudah digunakan, maka mama akan jual komputer Dicky!” kata Mama

“Jangan Mama” rintih Dicky

“Kalau Dicky tidak mau ya Dicky harus bisa menggunakan teknologi secara tepat guna. Maksudnya Dicky harus menggunakan teknologi seperti komputer hanya saat perlunya saja. Banyak manfaat dari komputer selain untuk bermain games terus. Kamu bisa menggunakannya untuk mengerjakan tugas sekolah dan lainnya. Jangan sampai Dicky menggunakan komputer berlebihan sampai-sampai Dicky lupa untuk makan siang. Iya kan Ma?”

“Iya. Jadi Dicky harus bisa membagi waktu antara main dengan aktivitas sehari-hari” kata Mama

“Iya Mama” jawab Dicky.

“Jadi mulai sekarang jangan diulangi lagi ya perbuatan Dicky!” kata Papa

“Iya Papa” jawab Dicky.

Sesudah itu Dicky sekarang mulai menggunakan komputer secara tepat guna sehingga selain bisa menghemat energi, Dicky juga bisa membagi waktu antara menggunakan komputer dengan aktivitasnya sehari-hari.

Salah Tempat

Adi adalah anak dari keluarga Pak Badri dan Bu Samin. Mereka adalah keluarga yang sangat miskin dan tinggal di pinggiran kota Surabaya. Namun meski begitu kedua orang tua Adi masih bisa menyekolahkan anak mereka itu, bahkan kakak laki-lakinya sekarang duduk di bangku SMA.

Adi tergolong anak yang sangat rajin dan pandai di kelas dan lingkungannya. Ia bersekolah di SD Tersayang Hati. Tiap pagi ia selalu berangkat dengan teman-temannya. Ia termasuk anak yang sering bergaul dengan temannya.

Adi ingin sekali mempunyai ponsel seperti milik teman-temannya. Ponsel mereka bisa digunakan untuk bermain atau bahkan menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya.

Terkadang Adi menyendiri di sudut ruang kelasnya dan membayangkan seandainya ia punya ponsel seperti teman-temannya. Namun hal itu bagi Adi sangatlah sulit sebab kedua orag tuanya hanyalah seorang petani pesuruh di daerahnya.

Teman-teman Adi tau kalau Adi ingin sekali memiliki ponsel layaknya mereka. Oleh karena itu teman-temannya berencana untuk menghadiakan sebuah ponsel yang bisa digunakan Adi pada hari ulang tahunnya nanti.

Oca, teman sebangku Adi iba juga dengan Adi, maka ia lah yang mempunyai ide itu pertama kali. Mereka semua mulai mengumpulkan uang mereka untuk membeli ponsel  untuk Adi. Setelah uang yang dikira telah cukup, maka Stevani dan Lucius pergi ke toko ponsel yang tak jauh dari sekolah mereka.

Pada hari ulang tahun Adi, teman-temannya mengucapkan selamat kepadanya dan memberikan sebungkus hadiah mini. Ketika Adi membukanya, ia sangat gembira sekali dan banyak-banyak mengucapkan terima kasih karena ia baru saja mendapatkan ponsel baru.

Dan semuanya ikut senang.

Hari demi hari, Adi lewatkan dirinya untuk mengutak-atik ponsel barunya itu namun ia hampir-hampir lupa untuk belajar dan bahkan tidak peduli dengan lingkungannya. Ia lebih memilih sibuk dengan ponsel barunya itu.

Di sekolah pun Adi sering tidak konsen belajar. Ia lebih sering menundukkan kepala dan mulai berselancar di dunia maya saat guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Ia nampaknya sangatlah ketagihan dengan hal itu. Adi pun mulai jarang bersosialisasi dengan dengan teman-temannya. Ia lebih senang dengan teman dunia mayanya.

Hal ini tentu saja mengganggu prestasinya dalam sekolah. Bu Gurunya sering kali menasehatinya untuk tidak menggunakan ponsel saat pelajaran di kelas sedang diberikan. Namun tetap saja dia asyik dengan ponsel itu. Dan parahnya lagi, pada saat menghadapi ulangan akhir semester ganjil, ia malah lebih senang dengan ponselnya.

Pada pengambilan nilai rapor semester ganjil, nilai rapor Adi jatuh semua. Banyak yang merah. Orang tua Adi pun dipanggil oleh sang Wali Kelas dan memberitahu penyebab kemungkinan nilai Adi jatuh.

Di rumah, Adi mendapat marah dari kedua orang tuanya. Ia kemudian tidak diijinkan lagi untuk membawa ponsel ke sekolah. Saat itulah Adi mulai sadar bahwa ini semua salahnya.

Pada semester selanjutnya, Adi mulai berubah. Ia mulai kembali tekun belajar untuk mendapatkan lagi ketertinggalannya selama semester ganjil sebelumnya.

Dan pada pengambilan rapor genap selanjutnya, ia mendapat nilai yang memuaskan. Orang tuanya senang terhadapnya. Mereka pun memberikan kembali ponsel Adi. Tapi Adi diijinkan kembali untuk memegang ponsel asalkan dia tetap rajin belajar dan tau kapan seharusnya menggunakan ponsel. Selain itu juga, Adi juga dianjurkan untuk tidak sesering mungkin menggunakan jejaring sosial seperti Facebook karena hal itu akan membuatnya acuh tak acuh terhadap lingkungannya. Adi boleh menggunakan jejaring sosial itu asal tau waktu dan tempatnya. Adi senang bisa mendapatkan kembali ponsel pemberian teman-teman kelasnya dan ia berjanji tak akan mengulangi lagi kelakuannya.

Facebook Juice

Di suatu desa kecil hiduplah komunitas buah-buahan. Di sana terdapat buah Apel, Jeruk, Strawberry, Blueberry, dan masih banyak lagi lainnya. Mereka senang sekali dengan jus-jus yang namanya unik sekali seperti jus Twitter, jus Facebook, jus MySpace dan masih banyak lagi.

Setiap pagi, seluruh masyarakat desa buah itu melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang pergi ke sekolah, bekerja di kantor ataupun berdagang di pasar.

Saat itu si Jeruk akan berangkat ke sekolah. Dia pergi sendiri karena dia tak memiliki  teman.

Di sekolah ia dijuluki anak yang sulit bergaul dengan teman-temannya meskipun ia adalah yang paling pintar di kelas namun tetap saja ia tak punya teman untuk diajak berbicara.

Ada seorang temannya yang iba melihat keadaan si Jeruk. Dia adalah si Strawberry. Rumah Strawberry tak jauh dari rumah si Jeruk. Karena rumah dia yang dekat dengan rumah Jeruk, maka dia setidaknya tau tentang perilaku si Jeruk yang suka menyendiri.

Si Strawberry pun mendekati si Jeruk pada saat jam istirahat. Si Strawberry bertanya,

“Kenapa kamu tidak istirahat di kantin?”

Si Jeruk menjawab,”Aku tidak punya teman”

“Tidak punya teman?Kamu punya banyak teman!. Hanya saja kamunya yang tertutup, Jeruk” kata Strawberry.

“Mereka tak suka punya teman seperti aku” jawab Jeruk.

“Mereka bukannya tidak suka kamu tapi kamulah yang tak mau bersahabat dengan mereka. Kamu terlalu pendiam, Jeruk. Mencobalah untuk setidaknya berteman dengan mereka. Aku mau jadi teman kamu kok” kata Strawberry dengan senang hati.

“Sungguh? Oh aku terharu sekali mendengarnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membuat mereka mengenal aku dengan baik?” tanya si Jeruk.

“Hmm..aku punya ide! Gimana kalau kamu mengadakan pesta jus di rumah. Kamu bisa mengundang teman-teman sekelas. Dengan demikian, kamu bisa mngenal mereka dengan baik” kata Strawberry dengan penuh semangat.

“Ha? Emangnya berhasil?” tanya Jeruk bingung.

“Pastinya. Ini kan ide brilian aku. Penduduk di desa buah kan semuanya hampir suka jus apalagi dengan jus Facebook. Hahaha. Gimana?” kata Strawberry.

“Hmm baiklah. Di rumah aku saja ya pestanya” kata si Jeruk

“Oke. Aku yang akan atur segalanya termasuk undangan buat teman-teman” kata Strawberry.

“Tapi…bagaimana cara membuat Jus Facebook? Aku tak bisa membuatnya” tanya Jeruk dengan frustasi.

“Itu masalah gampang. Aku yang akan mengajari kamu bagaimana membuatnya dengan baik. Dan pastinya bersih dan enak. Dijamin teman-teman bakalan suka hehe” tawa Strawberry.

Maka keesokan harinya Strawberry mulai menyebarkan undangan ke teman sekelasnya. Dan kebanyakan mereka sedikit tercenggang dengan acara yang akan diadakan di rumah si Jeruk yang dia sendiri sangatlah pendiam.

Minggu pagi itu Strawberry datang ke rumah Jeruk untuk mengajarkannya membuat jus Facebook. Dia menekan bel rumah dan saat itu juga Jeruk lah yang membukakan pintu.

“Ayo masuk” suruh si Jeruk ke Strawberry. Strawberry pun masuk dan menuju ke dapur bersama Jeruk.

Di dapur, si Jeruk sudah menyiapkan bahan-bahan yang akan diperlukan untuk membuat jus Facebook. Ada buah Identitas, gula Foto, dan sebuah blender. Di situ juga terdapat saringan dan sendok Enter, sendok yang memang khusus dibuat untuk membuat jus Facebook.

Strawberry menyuruh Jeruk untuk mengupas buah Identitas tapi dia melarang untuk memasukkan keseluruhan isi buah karena rasanya yang pahit. Setelah mengupas buah Identitas, Jeruk memasukkannya ke dalam blender dan menambahkan gula Foto. Gula Foto yang diminta adalah yang bagus. Setelah itu ditambahkan juga air untuk pelarutnya.

Strawberry melarang si Jeruk untuk memasukkan gula Privasi ke dalamnya karena rasanya tidaklah enak. Kemudian tombol blender ditekan dan mulai memblender buah dan gulanya  itu.

Setelah selesai diblender, jus Facebook dimasukkan ke dalam gelas yang dibagi menjadi 14 gelas yaitu untuk 12 teman mereka dan Jeruk serta Strawberry itu sendiri. Namun sebelum jus dimasukkan ke gelas, masing-masingnya disaring terlebih dahulu agar bersih.

Setelah disaring baru jus masuk ke gelas dan siap untuk dibuat pesta malam harinya.

Pada malam hari semua teman si Jeruk datang ke rumahnya. Pestanya sederhana. Dalam pesta itu si Jeruk memberikan beberapa ucapan sebelum pesta dimulai.

“Hmm…” tapi karena si Jeruk yang terlalu malu untuk berkata, maka si Strawberry-lah yang memulai untuk berbicara.

“Teman-teman. Terima kasih sudah datang ke pesta Jeruk. Kalian tau mengapa dia mengundang kalian disini? Karena dia ingin sekali punya sahabat. Dia ingin punya banyak teman. Kuharap melalui pesta ini kalian bisa mengenal dia lebih baik”

Semuanya diam sejenak dan memandang ke arah Strawberry dan Jeruk secara bergantian.

“Ayolah! Apakah kalian tidak suka dengan teman yang sudah lama telah menjadi teman kita di kelas? Kita ini bersaudara! Kita adalah satu. Kita tidak boleh saling membenci satu sama lain! Ibu guru kita pun berkata demikian” Strawberry berkata dengan penuh yakin.

Tiba-tiba si Apel mendekat ke si Jeruk dan memeluknya. Dan yang lain pun mulai ikut memeluk juga. Si Anggur, si Pisang, Lemon, dan lainnya juga ikut. Strawberry juga menyusul untuk memeluk bersama.

Setelah itu mereka pun memulai pesta dan meminum jus Facebook yang telah dibuat. Semuanya gembira saat itu dan sekarang Jeruk tak kesepian lagi karena ia telah punya banyak teman yang sayang kepadanya.

Search for the El Dorado

This post is a my hand-made story and dedicated to all children in the world. Besides it is the annual task from my literature of English.The story is now waiting for you + my CRAZY pictures made by myself!Enjoy it!

 

Search For The El Dorado

The cover of the story 'SEARCH FOR THE EL DORADO'

 

One day in a backward village, there lived a family. The family had a son named Nutty. He was such a stubborn boy and he did not like his life. His parents worked as the farmers in the nut farm land. They were paid in small sum.

The residence where Nutty and his family lived

And it was impossible for them to get the proper life. Nutty thought that his life was not fair. Of the all matters, he was very clever. He aimed to get the rich by his own way. He learned lots of books including the book that showed him about El Dorado.

He was very anxious to get the El Dorado, the gold-man, but he would never fly to its origin country. He just imagined and imagined and thought that would be never reality.

One afternoon after he has been asked to send some food for his father by his mother, he sat at the edge of the stream. He did nothing. And sometimes he threw few pebbles into the stream.

Meanwhile in the fairy world, Queen Fairy knew what Nutty was facing. She tried to help him by sending her messenger to him. At least she also expected Nutty’s stubborn would be gone. Petty, a small-beautiful fairy was had to do this order. At first she did not want, but then she was persuaded till she did.

That was going to the evening and Nutty had not returned home. When the light of the sun was going to set, Nutty heard something behind the grass in the other side of the river.

Nutty wanna know what is on the other side of the stream

He stood up and almost ran away but he wanted to know what that was. Something glowing appeared and Nutty became anxious to know. Suddenly a tiny creature flew over the grass softly and flew towards him passing over the stream. After few meters that tiny creature and Nutty were face-to-face and kept silent. Then the glowing creature told Nutty that she was a fairy ordered by the Queen Fairy to help his matter.

Nutty and Petty, the Fairy were having a chat

Nutty was very surprised by the fairy’s explain. He even did not believe to be able to see that such creature. Keeping silent for few minutes till Nutty told the fairy what he wanted. He really wanted to search for El Dorado. The fairy soon was surprised since he had never known that such a silly legend.

The fairy told him that the legend was not true. That was just a fake story, but Nutty seemed not to follow what the fairy said. He even said that it had been the task of the fairy’s to make the children’s dream come true. The night was changing the light of the beautiful sun and the wind began to blow gently.

Whatever it would be, the fairy finally granted Nutty’s wish. The fairy asked him to hold the fairy’s hand. Nutty was a little shocked as the fairy’s hand was very mild. Then a light seemed to hit them hard and soon after that, they had been on the centre of the jungle, DEEP JUNGLE! It was very different here because it was still the day!

The sketch of Ecuador jungle

Nutty asked fairy a question about where they at. Petty, the fairy told him that they were being in Ecuador. The legend of El Dorado was said to be here as well as the shrunken heads. They began to breach the jungle until they were on the quiet street. No vehicles at all. Sounds of the mammals and birds inside the jungle were the only sound could be heard. They began to walk again by the street. Suddenly a group of people came out of the jungle with something sharp on their right hand.

Then Nutty was awakened and he just realized he was separated from Petty by those people. He was inside the house and he looked out the window near him. A ceremony would be held in this village. The man wore big earrings and the women wore unusual wears. The residents inflamed a big flame in the central garden of the residence. Nutty really hoped Petty to be there that time.

Nutty was tied up to be sacrified and the headhunters would take his head away of his body!

A door was opened by a mysterious man and he took Nutty out of the house. He tied him on a big tree. A big flame seemed to let know Nutty he would be killed by this way. Nutty just knew that he were in the residence of the head-hunters of Peru. They would need a head of the victim or even the entire his body!

He started to cry in his self. He regretted with his stupid way he took. He hoped not to be there that time. The searching for El Dorado brought him to his own death. He really needed his fairy. Then he tried to loose the tie but the time might be going to run out. A flame was getting bigger and waited for him. Slowly but sure he could release himself of the bond. When no one noticed him, he ran into the jungle, unfortunately two men glimpsed at him. The two man gave know the others to catch Nutty.

Nutty ran faster but a great many young men ran after him. He was desperate, but he kept running. He saw a great tree some meters ahead. He hid on the behind it. Meanwhile the young men did not know where he at.

Nutty could breathe anymore and he thought that it was his entire fault he made in the beginning. What fairy said was really true. It was a fake! El Dorado was just a legend.  Unexpectedly a group of young men had been in front of him. He was very scared. He really wanted to go home. He shouted calling Petty, his fairy but nothing happened. Those people approached him. The spears on their each hand made him scared very much. When they were ready to throw those tools toward Nutty, he had been taken away by a hand.

A spear was thrown towards Nutty. Fortunately, Petty the Fairy helped him out of there

Nutty was lying on the ground while the fairy was sitting next to him. He got up and asked Petty where he was. Petty told him everything happened just now. It was all learning for him. Nutty realized his stubborn could damage his self. He did not want to do it anymore. He wanted to come home with his family.

The fairy also wanted to farewell with Nutty. Actually Nutty did not want he left, but she made him sure that she would be there whenever he needed him. Nutty was very grateful to Petty for the learnt he got from him.

The fairy flew higher and higher till he could not be seen anymore and left a point of light in the sky. And finally Nutty came home in which his parents were waiting for his coming

Nutty realized that the El Dorado was just a fake story and he went home safely and happily 🙂

 

© 2010

 

 

This Story Was Composed By Airan, Helmi D.B (06/XI Language Program Class). All Rights Reserved. Unauthorized Copying, Reproduction, and Changing Prohibited and Distributed by Helmi Airan. Composed and Printed in Indonesia