Ku Bangga Cita Rasa Indonesia (Cerpen)

Cerpen ini adalah karya saya sendiri dan telah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional – Festival Sastra 2013 oleh KMSI Universitas Gadjah Mada tanggal 3 Mei 2013. Segala bentuk penggandaan tanpa izin demi kepentingan pribadi maupun publik dianggap melanggar HaKI.

Ku Bangga Cita Rasa Indonesia

Oleh Helmi Airan

Courtesy: Getty Images

Courtesy: Getty Images

        Hidup mewah, bergelimpangan harta, dan semua hal yang membuat kehidupan lebih mudah adalah impian banyak orang, terutama masyarakat Indonesia. Tidak semua orang bisa hidup seperti itu. Namun, di tengah-tengah padatnya ibukota, berdirilah rumah megah yang dihuni oleh seorang perawan muda. Tidak pernah sedikitpun ia merasakan kekurangan dalam hidupnya. Tiap malam ia selalu menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama teman-temannya di sebuah klub malam di ibukota atau kalau tidak, mungkin menghabiskan malam itu di sebuah restoran mewah bercorak internasional. Mungkin ia menganggap ini wajar, sebab sudah seharian penuh ia bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan multinasional. Hal ini membuatnya sedikit depresi ketika tiap hari, dia harus berkutat dengan kertas dan banyaknya telepon berdering di meja kerjanya.

            Sebut saja dia, Resti. Meskipun masih muda, ia sudah mampu membangun istana megahnya sendiri dengan pundi-pundi yang ia mampu kumpulkan dari hasil kerjanya selama ini sebagai seorang sekretaris muda. Malam itu, ia siap bergegas pulang, tapi ia sadar bahwa ia belum sempat makan malam. Oleh karena itulah dia mengajak salah satu teman di kantornya untuk makan malam bersama. Mereka meluncur di jalanan malam ibukota yang penuh gemerlap cahaya, mengalahkan gemerlap bintang-bintang nan indah di angkasa. Mobil yang mereka kendarai pun akhirnya berhenti di salah satu rumah makan Padang di Jalan Padang Jaya.

            “Loe gak salah makan di sini? Gue anti yang namanya masakan Indonesia. Lanjut aja!” kata Resti.

            “Apa salahnya sih? Sekali-kali kita coba masakan Indonesia, biar gak yang internasional melulu yang kamu cicipi,” kata temannya, Enny.

            “Gak ah! Gue ogah sama masakan yang begituan. Apalagi ini di pinggir jalan yang berdebu, bau… ihhh enggak deh,” geram Resti.

            “Udah ayo turun! Nyesel kalau lu sampai gak makan di sini” ucap Enny.

           Seketika itupun, Enny mengajak Resti makan malam di rumah makan Padang itu. Interior rumah makan itu memang tidak seperti tempat biasanya Resti mengisi perutnya yang meronta-ronta untuk diisi makanan. Hanya ada meja kayu yang lusuh dan tempat duduk plastik. Cahayanya pun tak seterang restoran biasanya ia kunjungi.

            “Nasi Padangnya dua ya mas,” ucap Enny ke salah satu pelayan yang sudah menunggu di sebelah meja mereka.

            “Minumnya apa?” tanya sang pelayan.

            “Lu minum apa Res?” tanya Enny ke Resti

            “Ehmm… milkshake chocolate ada gak?” tanya Resti dengan nada sombong.

            “Lu kira itu minuman asli Indonesia apa? Jangan blagu deh Res. Es teh dan es jeruk adanya,” jawab Enny tegas.

            “WHAT??!!… restoran apa yang gak ada milkshakenya, ha?! Udah gue pergi aja deh

            “Hei Res!! Lu harus coba dulu makanan Padang! Jarang-jarang kan anak seperti loe makan makanan yang asli cita rasa Indonesia,” ucap Enny.

            “Sori En! Gue gak mau!! Udah deh gue cabut aja dari sini,”

           Resti langsung pergi meninggalkan Enny yang masih bingung dengan perilaku temannya itu. Pergi meninggalkan Enny dan masuk ke dalam taksi yang ia panggil.

            “Taksi!! Kemang ya pak” ucap Resti ke sang supir. Di sanalah, Kemang, ia menghabiskan malamnya sendiri dan masih marah terhadap Enny yang tiba-tiba mengajaknya ke rumah makan Padang.

            “Mimpi apa gue semalam?” tanya Resti pelan kepada dirinya.

            Tahun demi tahun berjalan dengan cepat. Resti pun mendapatkan promosi sebagai seorang manager di perusahan di mana ia bekerja selama ini. Suatu ketika ia diharuskan pergi ke sebuah kota di benua Eropa, namanya London. Beribu-ribu kilometer harus ia tempuh demi urusan pekerjaan. Bagi Resti, ini adalah pengalaman pertamanya untuk bisa pergi ke London.

           Ia akan melakukan presentasi di hadapan para manager muda dari seluruh dunia. Ia sedikit merasa gugup, namun ia yakin harus bisa menghadapinya. Sesampainya di terminal bandara Heathrow, ia langsung dijemput oleh mobil khusus untuk dirinya pribadi. Beberapa menit ia tempuh, melewati jalanan di kota itu, dan sampailah di tempat ia menginap untuk beberapa hari kedepan.

            Esoknya ia menemui berbagai rekan kerja yang berasal dari beragam bangsa. Di situlah ia melakukan presentasi, di hadapan banyak orang dari berbagai dunia.

           Beberapa menit sudah terlewati, dan pada akhir sesi, kejadian yang tak pernah diduga sebelumnya terjadi.

            “What is the special food of Indonesia1?” tanya pria Perancis berkemeja hitam yang duduk di tengah audien. Resti pun dibuat pusing dan gugup oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh pria Perancis itu. Namun, ia ingat saat itu ia pernah diajak oleh temannya, Enny ke rumah makan Padang yang terletak di pinggir jalanan ibukota, maka ia pun menjawab.

            “Masakan Padang,” jawabnya dengan gugup tapi meyakinkan.

            “How does it taste like2?” tanya audien lain. Hal ini semakin membuat keringat dingin bercucuran dari wajahnya yang tak tau seperti apa jawaban yang harus ia lontarkan, karena ia memang tidak pernah mencicipi masakan Padang. Dengan sedikit ide yang tiba-tiba muncul di benak kepalanya, ia berkata,”You should try it by yourselves, guys. There are lots of kinds of Indonesian food. Have a visit Indonesia, then3!”

           Setelah presentasi itu berakhir, Resti merasa lega. Ia merasakan sedikit kebebasan yang sangat ia idamkan, meskipun pertanyaan itu tidak ada hubungannya dengan hidup ataupun matinya. Resti pun menghabiskan sisa malamnya di London untuk berjalan-jalan santai di Trafalgar Square, sebuah alun-alun kota yang sangat ramai oleh para wisatawan dan penduduk lokal di kala malam hari tiba.

       “Andai saja kota Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia sebersih dan seindah di sini,” katanya dalam hati. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke kompleks restoran yang berjejer di kiri dan kanan jalan sempit. Ia bisa melihat banyak jenis restoran, mulai dari restoran masakan China, Eropa, India, Amerika. Ia merasa bahwa ia sudah pernah mencoba masakan itu.

          Ia pun ingin merasakan masakan yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Akhirnya ia melihat sebuah restoran di akhir jalan yang ia lewati dan banyak orang yang nampaknya antre di depan bangunan kecil itu. Ia melihat papan yang terpampang di depan restoran itu dan betapa terkejutnya ketika ia sadar bahwa tulisan di papan itu menyebut ‘Rumah Makan Bu Ida – Indonesian Restaurant’.

            Entah angin apa yang tiba-tiba memanggilnya untuk masuk ke dalam restaurant mungil itu. Ia masih terkejut akan keberadaan restauran asli Indonesia di kota modern London. Ia akhirnya masuk setelah beberapa menit antre. Ia pun duduk di sebuah kursi empuk yang berada di pojok dekat jendela. Yang mencengangkan lagi adalah ketika lagu-lagu keroncong asli Jawa diputar dan menemani siapa saja yang makan di situ.

          Resti memesan beberapa masakan khas Indonesia, meskipun ia sedikit ragu akan rasanya. Semanggi Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Nasi Pecel Kediri, Ayam Betutu Bali, dan Teh Hangat menjadi menu pilihannya saat itu. Setelah semuanya sudah di atas meja, Resti mencoba mencicipi satu persatu makanan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia sadar kalau masakan Indonesia tidak kalah enaknya dengan masakan asing. Selama ini ia merasa bodoh karena menganggap masakan Indonesia adalah masakan yang tidak ada nilai di matanya. Sejak itulah ia mulai menyukai masakan Indonesia dan ia bangga karenanya.

            Esoknya ia kembali ke tanah air. Di bandara Soekarno-Hatta, teman-teman Resti, termasuk Enny sudah menunggunya di sana. Tak lama setelah menunggu, Resti pun muncul dari pintu keluar. Mereka meluapkan rasa kangen dengan pelukan hangat satu sama lain.

            “Lu kelihatan semakin keren, Res,” kata salah seorang teman Resti.

            “Ngomong-ngomong, selama di London, siapa sih yang lu kangenin?” tanya Enny.

            “Gue kangen… kangen… masakan Indonesia!!” jawab Resti dengan semangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.■

1Apa makanan khas dari Indonesia?

2Bagaimana rasanya?

3Kalian harus mencobanya sendiri. Ada banyak jenis makanan khas Indonesia. Ayo kunjungi Indonesia!

©2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s