Ku Tau Siapa Engkau (Cerpen)

Cerpen ini adalah karya saya sendiri dan telah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Se-Universitas Negeri Malang Raya tanggal 18 Maret 2013. Segala bentuk penggandaan tanpa izin demi kepentingan pribadi maupun publik dianggap melanggar HaKI.

Ku Tau Siapa Engkau

Oleh Helmi Dana B.A.

Courtesy: Getty Images

Courtesy: Getty Images

            Rintik-rintik hujan menerpa tubuhku dengan lembutnya. Namun yang aku tunggu tidak kunjung datang. Atau mungkin tak akan pernah datang ‘tuk selamanya. Hingga pada akhirnya bus terakhir dari kota Jakarta tiba di terminal. Entah apa atau siapa yang aku tunggu tapi aku tetap tertahan disitu hingga segalanya menjadi tenang tak bersuara.

            “Mas, nunggu siapa? Kok bengong daritadi di sini?” tanya seorang lelaki tua yang berperawakan seperti seorang satpam di terminal itu.

            “Oh, ini nunggu taksi” balasku kepadanya.

            “Kalau taksi, nyarinya deket sana mas. Bukan di sini. Coba aja jalan ke sana”  jelasnya kepadaku. Akupun berjalan dengan tatapan kosong, menerawang dengan tidak jelas. Akupun masuk ke dalam salah satu taksi di situ.

            “Simokerto Utara ya pak” cetusku ke pak taksi. “Oh iya mas. Ngomong-ngomong ini tadi masnya datang dari kota mana? Kok malam….”.

            Samar-samar apa yang dikatakan pak taksi itu ke aku. Aku sendiri sibuk dengan segala pikiran yang ada di dalam kepala. Namun, pada akhirnya aku bisa menyusun kembali puzzle yang sempat tercecer itu.

Saat itu bel di sekolah berdering, ‘membangunkan’ jiwa-jiwa penerus bangsa untuk bergegas keluar ruangan kelas mereka dan pulang ke istana masing-masing. Aku sendiri waktu itu sangat senang apabila mengetahui bel sekolah berdering untuk terakhir kalinya di hari itu, meskipun aku bukanlah anak kecil yang memakai celana kedodoran berwarna merah dengan atasan putih dan dihias dengan dasi merah kecil. Aku bukanlah seperti itu lagi.

Karena knalpot sepeda motorku sedang diperbaiki di salah satu bengkel terdekat, aku meminta papa untuk mengantar dan menjemput aku di hari itu. Ternyata papa sudah duduk di sepeda motornya yang berwarna biru tua sambil sesekali melihat ke arah gerbang sekolah. Saat aku muncul, dia langsung menyalakan mesin sepeda motornya sambil berteriak,”Hei kesini!”

Langsung aku berlari ke arah papa yang berada di seberang jalan. Setelah mengepaskan apakah pantatku sudah dalam posisi pas di atas sadel sepeda motor, aku langsung bilang ke papa,”Udah jalan”.

            Aku sendiri adalah anak berusia delapan belas tahunan yang tengah duduk di bangku sekolah menengah atas. Harusnya berbeda dengan anak-anak kecil itu tapi entah mengapa aku sangat senang disaat waktu pulang tiba. Aku menyadari hal itu sebagai hal yang istimewa, sebab hari-hari terakhirku di sekolah menengah atas hampir usai namun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalananku untuk menempuh pendidikan 12 tahun kini tengah berada di ujung tombaknya. Di saat itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui dengan santainya tapi aku berusaha semaksimal yang aku bisa untuk lulus dari segala belenggu yang tengah menghadang.

            Di sisi lain, orangtuaku adalah sesosok yang protektif terhadap segalah tindakan yang aku ambil. Dalam hal ini, mereka menyemangati diriku untuk tetap dalam jalurnya. Segala jenis buku untuk mempersiapkan hajatan tahunan terbesar negara telah diberikan kepada diriku. Hingga pada akhirnya hari itu tiba.

            “Sebelum mengerjakan soalnya, usahakan berdo’a terlebih dahulu kepada Yang Kuasa agar diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujiannya”, pesan mamaku..

            Hal itulah yang selalu beliau ucapkan selama empat hari bertutur-turut hingga ujian berakhir. Suatu kelegaan yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, aku ingin melanjutkan studiku ke pendidikan yang lebih tinggi, atau orang-orang biasa menyebutnya ‘kuliah’. Karena hal itu, kedua orangtuaku berusaha mati-matian untuk bisa menyekolahkanku hingga Perguruan Tinggi.

            “Kalau kamu ingin kuliah, nggak usah dipikir. Biar mama sama papa yang mikir masalah itu. Yang perlu menjadi konsentrasi kamu adalah belajar dan belajar biar nantinya bisa membahagiakan mama dan papa” kata mama setiap menjelang maghrib. Namun, hal itu selalu menjadi hal yang selalu aku pikirkan.

            “Lho mama udah punya uang untuk biaya mengkuliahkan aku? Kan biayanya mahal” tanyaku dengan penuh perhatian.

            “Masalah itu nggak perlu kamu pikirin. Asal kamu tahu, ternyata papamu udah punya tabungan untuk menyekolahkan kamu lho” jawab mama dengan serius.

            “Sungguh ma? Tau darimana?” gembiranya aku kembali bertanya.

            “Ya pokoknya kamu belajar dengan rajin dan tekun, kita sebagai orangtua akan rela mengorbankan apapun demi anaknya” kata mama.

            “Tapi ma, papa kan orangnya agak cuek gitu dengan kondisi anak-anaknya. Segala hal yang berhubungan dengan keluarga aja agak cuek, apalagi hal yang yang mendetail seperti biaya sekolah?”

            Tapi sesungguhnya itu adalah nyata. Papaku sendiri adalah sesosok yang sangat keras dan cuek dengan kondisi sekitar. Segala hal yang berhubungan dengan kepengurusan rumah tangga seperti biaya listrik, air, dan biaya SPP dibebankan kepada sosok mama. Dia hanya menyerahkan uang gajiannya ke mama dan setelah itu segala ekonomi diatur oleh mama.

            Di sisi lain, ku juga bisa mengingat kebaikannya ketika ia menyumbangkan uang yang diperolehnya dari hasil kerja untuk sebagian disumbangkan ke anak yatim piatu. Hal ini tidak disadari oleh yang lain hingga suatu hari mama menemukan amplop yang berisi kwitansi yang menyatakan bahwa papa telah menyumbangkan sebagian hasil kerjanya ke sebuah yayasan yatim piatu di sebuah kota di Jawa Timur.

***

            Di saat pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, papa ternyata menghubungi mama apakah aku sudah mengirimkan uang transferan pendaftaran atau belum.

            “Uangnya sudah ditansfer belum untuk SNMPTN?” tanya papa ke mama lewat telepon. “Belum lah. Soalnya masih nunggu papa dulu. Dia belum pernah nyoba transfer” jawab mama.

            “ Ya udah nanti aja kalo aku udah sampai rumah, aku antar dia ke ATM terdekat” kata papa.

            Sesampainya di rumah, papa langsung mengajak aku ke ATM untuk mentransfer pembayaran SNMPTN. Belum sempat dia makan malam, papa langsung pergi dengan aku memakai sepeda motor birunya yang sudah kelihatan tua seperti pemiliknya.

            “Masukkin password dulu trus tinggal pilih menu transfer dan masukkan nomer rekening panitianya” jelas papa ke aku.

            “Oh iya aku paham” balasku sedikit cuek.

***

            Beberapa bulan setelah aku berhasil masuk Perguruan Tinggi yang aku minati, aku merasakan hal kesepian. Segalanya harus aku atur sendiri karena aku tidak lagi tinggal bersama kedua orangtuaku dan adik tercinta. Aku tinggal di sebuah kos di pusat kota Malang.

            Suatu hari aku meminta kiriman pulsa dari papa karena aku lagi hemat-hematnya dengan uang belanjaan yang dijatah tiap bulannya oleh mama. Kutulis melalui pesan singkat, “Tolong belikan pulsa 20rbu skg. Thx”. Tidak lama setelah itu, kiriman pulsa pun  masuk sesuai dengan nominal yang aku minta. Pernah aku meminta pulsa dengan nominal 50 ribu rupiah dan papa pun mengiriminya langsung seketika.

            Suatu saat, terlintas di benakku untuk memberikan kado di hari ulang tahun papa yang jatuh pada bulan depan. Aku tanya ke salah satu seorang teman dan ia menyarankan untuk beli jam tangan. Entah kenapa aku merasa dekat dengan papa akhir-akhir itu meskipun hubunganku dengannya tidak sebegitu dekat seperti diriku dengan mama.

            Esoknya aku memutuskan untuk membelikan batik saja di sebuah toko batik ternama dengan menggunakan uang yang telah aku tabung dari sisa uang belanja yang dijatah oleh mama. Kupilih dan akhirnya menemukan sesuatu yang cocok.

            Pada pekan itu, tidak pernah sekalipun aku menerima telepon dari keluarga di Sidoarjo. Pada akhirnya, bulan selanjutnya aku pulang ke Sidoarjo dan mendapatkan kabar bahwa papa tengah terbaring lemah di sebuah rumah sakit di tengah kota Surabaya. Setelah aku coba tanyakan apa yang tengah terjadi ke mama ternyata papa mengalami serangan jantung.

            “Kenapa gak hubungin aku kalau papa ada kenapa-kenapa??” tanyaku dengan agak kesal sambil meneteskan air mata. “Papamu tidak mau membebani kamu gara-gara penyakitnya. Dia takut kamu tidak konsentrasi kuliah, Nak” balas mama sambil meneteskan air mata.

            “Tapi aku juga berhak tahu. Emangnya aku ini siapa? Anaknya kan?”  dengan nada sedikit marah.

            Hari demi hari, kondisi papa tidak semakin membaik hingga pada akhirnya dokter memberitahu kita kalau umur papa bakal tidak lama lagi. Ku hanya bisa membeku dalam kondisi seperti itu. Tak tau apa yang harus aku lakukan.

            “Papa cepet sembuh ya. Aku pulang dari Malang kok dan sekarang ada di samping papa. Papa mau apa? Biar aku belikan. Besok adalah hari ulang tahun papa. Papa harus sembuh” kataku dengan terisak-isak. Tapi, tetap saja papa tidak bergerak.

            Hingga suatu saat elektrokardiograf papa pun berhenti di malam sebelum ulang tahunnya. Aku pun hanya bisa berteriak di dalam hatiku dan akhirnya hanya air mata ini yang bisa meluapkan segala yang tengah kurasa waktu itu. Seharusnya aku bisa merayakan ulang tahun papa esoknya dan memberikan kado berupa baju batik untuk dikenakannya. Tapi, itu semua hanya tinggal kenangan.

            Segala kebaikan dan perjuangannya selama ini kini hanya bisa dikenang dan dihargai. Senyumnya telah terkelupas dari dinding ruang kaluargaku dan mungkin aku akan merindukannya sangat dalam. Tak peduli ia cuek dengan keadaan sekitar tapi ia adalah sosok yang rela membanting tulang demi istri dan anak-anaknya. Kegigihannya itulah yang patut dicontoh meskipun dia tidak lagi di samping kami. Cintanya tidak akan pernah pudar dan sejak itulah ku tahu siapa sosok dia sebenarnya.

            Taksi yang aku tumpangi akhirnya sampai di depan rumah.

            “Kembaliannya untuk bapak aja” kataku.

            “Lho mas, ada kok kembaliannya, bentar” balas si sopir.

            “Udah gak apa pak. Kalau lihat kerja bapak yang sampai malam, mengingatkan aku kepada papaku yang tak pernah letih bekerja untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Aku sendiri belum sempat berterimakasih kepada beliau…dan satu hal yang aku ingat dari beliau… adalah banyak memberi daripada meminta…semoga dengan ini…aku bisa meniru seperti apa yang telah papa lakukan kepada orang lain” jawabku sambil mata berkaca-kaca.

            “Amin…  Makasih kalo begitu, mari mas” balas sopir itu dan taksinya pun meluncur di jalanan tengah malam yang penuh kabut.

            Akupun masuk rumah. Mama dan adikku tercinta sudah menunggu di dalam dan mungkin kenanganku dengan papa tetap ada di dalam rumah itu dan akan selalu ada di pikiranku selamanya.

©2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s