Waktu Yang Memusingkan

           Lembayung senja itu, lukisan misterius yang terlihat dalam hidupku. Aku masih berjalan dengan pikiran yang masih kalut atas kejadian di sekolah tadi. Suara bising kendaraan dan debu-debu yang berterbangan hanya menggenapkan keadaan rasaku.

          Aku masih berjalan. Tempat yang kutuju tinggal beberapa meter lagi. Namun, rupanya niatku harus berubah.

          Saat tiba-tiba, sosok misterius itu menghadangku. Dalam sekejap aku tak sadarkan diri. Tak tau dimana aku berada pada saat itu. Tapi pada akhirnya aku mengerti dimana aku saat itu.

          Sebuah gubuk misterius berdiri di depanku. Gubuk itu berada di sekitar pohon-pohon rapat yang tumbuh di sekitarnya. Gubuk yang sangat reyot itu kelihatan sekali tak terurus. Daun-daun dan ranting pohon banyak berserakan di sekitar gubuk tua itu.

          Tiba-tiba dari dalam muncullah sesosok manusia yang kelihatannya tua renta dan berambut putih. Perasaanku semakin dibuat takut. Aku mencoba bergerak tapi sekujur tubuh ini terasa mati rasa dan kaku. Pandangan mataku terus tertuju ke arah si orang tua itu yang mulai berjalan turun melewati beranda gubuk.

          Dan orang tua itu pada akhirnya berdiri tepat di hdapanku. Dia menjulurkan tangannya ke arahku dan memegang tanganku. Saat itu juga aku merasakan kembali kenormalan dalam tubuhku. Aku bangkit berdiri sambil dibantu oleh orang tua yang sangat asing bagiku. Kamu berdua berjalan dalam diam ke arah gubuk. Bau tak sedap terasa sekali saat pertama kali masuk ke dalam gubuk.

          Pada saat aku akan melepaskan tanganku dari genggaman orang tua tadi, aku bisa melihat kupasan-kupasan kulit di sekitar lengannya. Aku sadar jika dia menderita penyakit kusta tapi entah kenapa aku tak jijik melihatnya.

          Setelah berhasil melepaskan tanganku darinya, dia berjalan masuk sendirian dengan tertatih-tatih ke ruangan selanjutnya. Akupun hanya bisa berdiri kaku di sana sambil melihat keadaan sekitar dalam gubuk yang berbau tak sedap dan disinggahi banyak debu.

          Beberapa saat kemudian, si orang tua tadi muncul kembali dari dalam ruangan dan kali ini membawa, nampaknya sebuah karangan bunga dan foto.

          Dalam foto itu ada sosok perempuan cantik dan manis dan kelihatannya dia sendiri adalah anak perempuan orang tua itu. Di bagian piguranya terdapat tulisan ‘Anne Ellen’.

          Orang tua itu menyodorkan karangan bunga dan foto kepadaku. Aku menerimanya, tapi tak tau apa yang akan atau harus aku lakukan dengan itu semua….

          Kemudian aku duduk di samping sebuah kuburan. Terkejut sekali saat aku sadar berada di sana, padahal sebelumnya aku berada di gubuk bersama orang tua tadi. Karangan bunga dan foto masih ada di genggaman tanganku. Di depanku ada sebuah pusara putih dengan tulisan di atasnya ‘Anne Ellen (14 Maret 1996)’. Namanya sama persis dengan yang ada di foto wanita yang aku pegang.

          Suasana di pemakaman itu sangatlah ramai, tapi aku tidak bisa menemukan/melihat sekilas sosok tua yang tadi aku temui. Ini semua terasa membingungkan.

          Dan akhirnya aku sadar, sosok tua misterius itu menyuruhku meletakkan karangan bunga dan foto di atas makam anaknya, Anne Ellen.

          Sangat aneh, tapi aku memahami mengapa dia tak berani datang sendiri ke pusara anaknya. Itu Karena ia menderita kusta. Penderita kusta selalu dikucilkan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, ia menyuruhku untuk melakukan ini.

          Setelah selesai, aku bangkit dan mulai berjalan keluar area pemakaman dan kembali ke tujuanku semula.

          Semuanya masih membingungkanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s