Finding Ambiguity on the Notices in Public Venues and Observing the Applied Sociolinguistic in Use

DEFINITIONS

a.Semantics is the study of linguistic meaning; that is, the meaning of words phrases, and sentences.  (Nirmala Sari, 1988:41)
b.Sociolinguistics is the descriptive study of the effect of any and all aspects of society, including cultural norms, expectations, and contexts, on the way language is used and the effect of language used on society. (Wikipedia, accessed on April 17th)
SAMPLES
1
A. In the Central Station
1st sample was obtained here

the samples were obtained here

#1 Sample
A banner seen next to the entrance to the station

A banner seen next to the entrance to the station

1. On the first line of the banner, it says “Mulai 1 April, Berlaku Jadwal Perjalanan Kereta Api baru”. The word BARU (new) has an ambiguity if it is connected to JADWAL (timetable) or KERETA API (train). It should have been put forward, so that it would be placed after the word JADWAL in which means the NEW SCHEDULE.
2. On the last line, the phrase JADWAL BERANGKAT DAN DATANG has ambiguity since it has no correlation. It should have been omitted or if necessary can be put after the word JADWAL on the second line of the banner and replaced with the word JADWAL KEBERANGKATAN DAN KEDATANGAN (Departure and Arrival Timetable).
#2 Sample
Another banner was hung over the ticket boxes

Another banner was hung over the ticket boxes

The last sentence on this banner which said KEDAPATAN TIKET… was formed inappropriately. The word KEDAPATAN (found) should have been replaced with JIKA (If) or APABILA (In case).

#3 Sample

This 'Service Information' banner was pasted over the gate for check-in

This ‘Service Information’ banner was pasted over the gate for check-in

The second relative pronoun YANG (that) has an ambiguity because in English it is rare to find a dependent clause having a dependent clause. In this banner, YANG MEMPUNYAI TIKET (whom have tickets) modifies PENUMPANG (passengers) and DIPERKENANKAN MASUK…(are allowed to enter…) modifies IDENTITAS DIRI (identity). The second relative pronoun YANG (that) should have been left out as it perplexed people perusing the banner.

#4 Sample

A flier showing a new information was pasted to the glass ticket box

A flier showing a new information was pasted to the glass ticket box

#Point of View in Sociolinguistic

We can infer from the samples taken place in the central station of Malang city that the notices (language) used there are in the written form, so that they are  made up in full sentences in order to transfer the main points to the readers. In addition, one sentence to another sentence elaborated structurally-it means that the sentences in the notices have the relation that can not be avoided. However, there is a sample (1.4) proving that some people there have acquired English to be practically applied in a daily life even though some words are falsely written based on the right English.

B. In the Terminal

The frontage of Arjosari Terminal, Singosari, Malang

The frontage of Arjosari Terminal, Malang

#1 Sample

Tariff list shown to anyone who would park their vehicles into a car park

Tariff list shown to anyone who would park their vehicles into a car park

The notice is ambiguous in inserting the tariff of the vehicles parking. Some people may decode this notice as the ‘price’ of the vehicles themselves. There should have been a new phrases added just before BERDASARKAN (according to) – that is TARIF PARKIR (parking tariff).

#2 Sample

An error in the left-side flier

An error in the left-side flier

The left-hand notice was wrongly arranged. There may be misunderstanding to peruse this notice because of the omission of the punctuation.  Meanwhile the last line does not matter at all.  We suggest change the entire composition of this notice. It should have been KAMI UCAPKAN TERIMA KASIH ATAS KESADARAN DAN PENGERTIAN ANDA PERIHAL PEMBAYARAN RETRIBUSI PARKIR (We thank you for your awareness and understanding referring to the retribution payment).

#3 Sample

A steel-banner standing in the car park

A steel-banner standing in the car park

The sentence MOHON HELM DITITIPKAN (Please entrust your helmet) was falsely put down. It should have been put in before the sentence HELM HILANG/TERTUKAR (the missing or swopped helmet), so that the rule of action-reaction applies.

#4 Sample

A sign that was falsely arranged

A sign that was falsely arranged

The word POSKO (post) should have been stuck before the word INFORMASI (Information) and PENGADUAN (Complaint), so that the meaning will not be incoherent.

#Point of View in Sociolinguistic

The language used in terminal is almost similar to which is used at the central station because the passengers there has the same ability to understand the words stuck on the notices. That is why the use of language is not as difficult as which used in other public venues.

C. In the Airport

The gate of Abdurachman Saleh Airport in which the samples were taken from

The gate of Abdurachman Saleh Airport in which the samples were taken from

#1 Sample

The stickers on the check-in door

The stickers on the check-in door

In this notice, the word PENJEMPUT should not have been separated from DILARANG MASUK (do not enter) because it would make different meaning.

#2 Sample

Another printed-sign found around the airport building

Another printed-sign found around the airport building

1. The preposition KE (into) should have been added between SENJATA (weapons) and DALAM (inside).
2. SISI UDARA (air area) must be removed and changed with AREA (area).
#Point of View in Sociolinguistic

This sort of venue uses such a complicated language because the passengers who use the airplane to transport them away have the high ability to acquire the words on the notices.

CONCLUSION

• We can conclude that there are so many errors found on the notices in three major public venues in Malang City, even though they are not such a significant matter.
• Society does affect to the notices in these three major public venues, so that they prefer using the suitable language. That aims to make the people, who use the transportation there, capable of comprehending what the words stated.
WHAT’S NEW
The newest thing we can obtain from our research is that there is such a movement of language usage in one of the public venues in which we took samples from; that is railway station. Many of the banners and notices here are using English apart from Bahasa Indonesia. We assumed that it is caused by the passengers of the train whom not only are from Indonesia, but also other countries. Malang as one of the favourite travel destinations in Indonesia, it will willy-nilly make sort of changes towards the development of the language used in her public venues, such as the railway station.
This mini-research was conducted seriously, but not taking any outer sources. It was in partnership with Ahmad Ainur Rokhish , Jimmy Chandra, Habibi Rahman.

©2013

Ku Tau Siapa Engkau (Cerpen)

Cerpen ini adalah karya saya sendiri dan telah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Se-Universitas Negeri Malang Raya tanggal 18 Maret 2013. Segala bentuk penggandaan tanpa izin demi kepentingan pribadi maupun publik dianggap melanggar HaKI.

Ku Tau Siapa Engkau

Oleh Helmi Dana B.A.

Courtesy: Getty Images

Courtesy: Getty Images

            Rintik-rintik hujan menerpa tubuhku dengan lembutnya. Namun yang aku tunggu tidak kunjung datang. Atau mungkin tak akan pernah datang ‘tuk selamanya. Hingga pada akhirnya bus terakhir dari kota Jakarta tiba di terminal. Entah apa atau siapa yang aku tunggu tapi aku tetap tertahan disitu hingga segalanya menjadi tenang tak bersuara.

            “Mas, nunggu siapa? Kok bengong daritadi di sini?” tanya seorang lelaki tua yang berperawakan seperti seorang satpam di terminal itu.

            “Oh, ini nunggu taksi” balasku kepadanya.

            “Kalau taksi, nyarinya deket sana mas. Bukan di sini. Coba aja jalan ke sana”  jelasnya kepadaku. Akupun berjalan dengan tatapan kosong, menerawang dengan tidak jelas. Akupun masuk ke dalam salah satu taksi di situ.

            “Simokerto Utara ya pak” cetusku ke pak taksi. “Oh iya mas. Ngomong-ngomong ini tadi masnya datang dari kota mana? Kok malam….”.

            Samar-samar apa yang dikatakan pak taksi itu ke aku. Aku sendiri sibuk dengan segala pikiran yang ada di dalam kepala. Namun, pada akhirnya aku bisa menyusun kembali puzzle yang sempat tercecer itu.

Saat itu bel di sekolah berdering, ‘membangunkan’ jiwa-jiwa penerus bangsa untuk bergegas keluar ruangan kelas mereka dan pulang ke istana masing-masing. Aku sendiri waktu itu sangat senang apabila mengetahui bel sekolah berdering untuk terakhir kalinya di hari itu, meskipun aku bukanlah anak kecil yang memakai celana kedodoran berwarna merah dengan atasan putih dan dihias dengan dasi merah kecil. Aku bukanlah seperti itu lagi.

Karena knalpot sepeda motorku sedang diperbaiki di salah satu bengkel terdekat, aku meminta papa untuk mengantar dan menjemput aku di hari itu. Ternyata papa sudah duduk di sepeda motornya yang berwarna biru tua sambil sesekali melihat ke arah gerbang sekolah. Saat aku muncul, dia langsung menyalakan mesin sepeda motornya sambil berteriak,”Hei kesini!”

Langsung aku berlari ke arah papa yang berada di seberang jalan. Setelah mengepaskan apakah pantatku sudah dalam posisi pas di atas sadel sepeda motor, aku langsung bilang ke papa,”Udah jalan”.

            Aku sendiri adalah anak berusia delapan belas tahunan yang tengah duduk di bangku sekolah menengah atas. Harusnya berbeda dengan anak-anak kecil itu tapi entah mengapa aku sangat senang disaat waktu pulang tiba. Aku menyadari hal itu sebagai hal yang istimewa, sebab hari-hari terakhirku di sekolah menengah atas hampir usai namun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalananku untuk menempuh pendidikan 12 tahun kini tengah berada di ujung tombaknya. Di saat itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui dengan santainya tapi aku berusaha semaksimal yang aku bisa untuk lulus dari segala belenggu yang tengah menghadang.

            Di sisi lain, orangtuaku adalah sesosok yang protektif terhadap segalah tindakan yang aku ambil. Dalam hal ini, mereka menyemangati diriku untuk tetap dalam jalurnya. Segala jenis buku untuk mempersiapkan hajatan tahunan terbesar negara telah diberikan kepada diriku. Hingga pada akhirnya hari itu tiba.

            “Sebelum mengerjakan soalnya, usahakan berdo’a terlebih dahulu kepada Yang Kuasa agar diberikan kelancaran dalam mengerjakan ujiannya”, pesan mamaku..

            Hal itulah yang selalu beliau ucapkan selama empat hari bertutur-turut hingga ujian berakhir. Suatu kelegaan yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, aku ingin melanjutkan studiku ke pendidikan yang lebih tinggi, atau orang-orang biasa menyebutnya ‘kuliah’. Karena hal itu, kedua orangtuaku berusaha mati-matian untuk bisa menyekolahkanku hingga Perguruan Tinggi.

            “Kalau kamu ingin kuliah, nggak usah dipikir. Biar mama sama papa yang mikir masalah itu. Yang perlu menjadi konsentrasi kamu adalah belajar dan belajar biar nantinya bisa membahagiakan mama dan papa” kata mama setiap menjelang maghrib. Namun, hal itu selalu menjadi hal yang selalu aku pikirkan.

            “Lho mama udah punya uang untuk biaya mengkuliahkan aku? Kan biayanya mahal” tanyaku dengan penuh perhatian.

            “Masalah itu nggak perlu kamu pikirin. Asal kamu tahu, ternyata papamu udah punya tabungan untuk menyekolahkan kamu lho” jawab mama dengan serius.

            “Sungguh ma? Tau darimana?” gembiranya aku kembali bertanya.

            “Ya pokoknya kamu belajar dengan rajin dan tekun, kita sebagai orangtua akan rela mengorbankan apapun demi anaknya” kata mama.

            “Tapi ma, papa kan orangnya agak cuek gitu dengan kondisi anak-anaknya. Segala hal yang berhubungan dengan keluarga aja agak cuek, apalagi hal yang yang mendetail seperti biaya sekolah?”

            Tapi sesungguhnya itu adalah nyata. Papaku sendiri adalah sesosok yang sangat keras dan cuek dengan kondisi sekitar. Segala hal yang berhubungan dengan kepengurusan rumah tangga seperti biaya listrik, air, dan biaya SPP dibebankan kepada sosok mama. Dia hanya menyerahkan uang gajiannya ke mama dan setelah itu segala ekonomi diatur oleh mama.

            Di sisi lain, ku juga bisa mengingat kebaikannya ketika ia menyumbangkan uang yang diperolehnya dari hasil kerja untuk sebagian disumbangkan ke anak yatim piatu. Hal ini tidak disadari oleh yang lain hingga suatu hari mama menemukan amplop yang berisi kwitansi yang menyatakan bahwa papa telah menyumbangkan sebagian hasil kerjanya ke sebuah yayasan yatim piatu di sebuah kota di Jawa Timur.

***

            Di saat pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, papa ternyata menghubungi mama apakah aku sudah mengirimkan uang transferan pendaftaran atau belum.

            “Uangnya sudah ditansfer belum untuk SNMPTN?” tanya papa ke mama lewat telepon. “Belum lah. Soalnya masih nunggu papa dulu. Dia belum pernah nyoba transfer” jawab mama.

            “ Ya udah nanti aja kalo aku udah sampai rumah, aku antar dia ke ATM terdekat” kata papa.

            Sesampainya di rumah, papa langsung mengajak aku ke ATM untuk mentransfer pembayaran SNMPTN. Belum sempat dia makan malam, papa langsung pergi dengan aku memakai sepeda motor birunya yang sudah kelihatan tua seperti pemiliknya.

            “Masukkin password dulu trus tinggal pilih menu transfer dan masukkan nomer rekening panitianya” jelas papa ke aku.

            “Oh iya aku paham” balasku sedikit cuek.

***

            Beberapa bulan setelah aku berhasil masuk Perguruan Tinggi yang aku minati, aku merasakan hal kesepian. Segalanya harus aku atur sendiri karena aku tidak lagi tinggal bersama kedua orangtuaku dan adik tercinta. Aku tinggal di sebuah kos di pusat kota Malang.

            Suatu hari aku meminta kiriman pulsa dari papa karena aku lagi hemat-hematnya dengan uang belanjaan yang dijatah tiap bulannya oleh mama. Kutulis melalui pesan singkat, “Tolong belikan pulsa 20rbu skg. Thx”. Tidak lama setelah itu, kiriman pulsa pun  masuk sesuai dengan nominal yang aku minta. Pernah aku meminta pulsa dengan nominal 50 ribu rupiah dan papa pun mengiriminya langsung seketika.

            Suatu saat, terlintas di benakku untuk memberikan kado di hari ulang tahun papa yang jatuh pada bulan depan. Aku tanya ke salah satu seorang teman dan ia menyarankan untuk beli jam tangan. Entah kenapa aku merasa dekat dengan papa akhir-akhir itu meskipun hubunganku dengannya tidak sebegitu dekat seperti diriku dengan mama.

            Esoknya aku memutuskan untuk membelikan batik saja di sebuah toko batik ternama dengan menggunakan uang yang telah aku tabung dari sisa uang belanja yang dijatah oleh mama. Kupilih dan akhirnya menemukan sesuatu yang cocok.

            Pada pekan itu, tidak pernah sekalipun aku menerima telepon dari keluarga di Sidoarjo. Pada akhirnya, bulan selanjutnya aku pulang ke Sidoarjo dan mendapatkan kabar bahwa papa tengah terbaring lemah di sebuah rumah sakit di tengah kota Surabaya. Setelah aku coba tanyakan apa yang tengah terjadi ke mama ternyata papa mengalami serangan jantung.

            “Kenapa gak hubungin aku kalau papa ada kenapa-kenapa??” tanyaku dengan agak kesal sambil meneteskan air mata. “Papamu tidak mau membebani kamu gara-gara penyakitnya. Dia takut kamu tidak konsentrasi kuliah, Nak” balas mama sambil meneteskan air mata.

            “Tapi aku juga berhak tahu. Emangnya aku ini siapa? Anaknya kan?”  dengan nada sedikit marah.

            Hari demi hari, kondisi papa tidak semakin membaik hingga pada akhirnya dokter memberitahu kita kalau umur papa bakal tidak lama lagi. Ku hanya bisa membeku dalam kondisi seperti itu. Tak tau apa yang harus aku lakukan.

            “Papa cepet sembuh ya. Aku pulang dari Malang kok dan sekarang ada di samping papa. Papa mau apa? Biar aku belikan. Besok adalah hari ulang tahun papa. Papa harus sembuh” kataku dengan terisak-isak. Tapi, tetap saja papa tidak bergerak.

            Hingga suatu saat elektrokardiograf papa pun berhenti di malam sebelum ulang tahunnya. Aku pun hanya bisa berteriak di dalam hatiku dan akhirnya hanya air mata ini yang bisa meluapkan segala yang tengah kurasa waktu itu. Seharusnya aku bisa merayakan ulang tahun papa esoknya dan memberikan kado berupa baju batik untuk dikenakannya. Tapi, itu semua hanya tinggal kenangan.

            Segala kebaikan dan perjuangannya selama ini kini hanya bisa dikenang dan dihargai. Senyumnya telah terkelupas dari dinding ruang kaluargaku dan mungkin aku akan merindukannya sangat dalam. Tak peduli ia cuek dengan keadaan sekitar tapi ia adalah sosok yang rela membanting tulang demi istri dan anak-anaknya. Kegigihannya itulah yang patut dicontoh meskipun dia tidak lagi di samping kami. Cintanya tidak akan pernah pudar dan sejak itulah ku tahu siapa sosok dia sebenarnya.

            Taksi yang aku tumpangi akhirnya sampai di depan rumah.

            “Kembaliannya untuk bapak aja” kataku.

            “Lho mas, ada kok kembaliannya, bentar” balas si sopir.

            “Udah gak apa pak. Kalau lihat kerja bapak yang sampai malam, mengingatkan aku kepada papaku yang tak pernah letih bekerja untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Aku sendiri belum sempat berterimakasih kepada beliau…dan satu hal yang aku ingat dari beliau… adalah banyak memberi daripada meminta…semoga dengan ini…aku bisa meniru seperti apa yang telah papa lakukan kepada orang lain” jawabku sambil mata berkaca-kaca.

            “Amin…  Makasih kalo begitu, mari mas” balas sopir itu dan taksinya pun meluncur di jalanan tengah malam yang penuh kabut.

            Akupun masuk rumah. Mama dan adikku tercinta sudah menunggu di dalam dan mungkin kenanganku dengan papa tetap ada di dalam rumah itu dan akan selalu ada di pikiranku selamanya.

©2013

Vaca in Metro Pool – Kepanjen

Metro Public Pool which is situated in Kepanjen town, Malang

Metro Public Pool which is situated in Kepanjen town, Malang

There must be a reason why people writing on their blog sites about their experiences, DISTINCT REASON!! Regarding with that one, I would like to write this sort of feature because this was my first time, since my departure to this town last August swimming down the pool ! How merry I was! However, it proved to be unlike what people are used to thinking about, but even HARDER to get to the venue in which we gonna spend only 3 hours for DIP! Actually I wished to have a swim at a nearby pool, but my buddy even suggested the venue that cost little to enter.

Map interactive shows how to get to the Metro pool

Map interactive shows how to get to the Metro pool

I would start it off with the day when I planned to go out somewhere in which was uncertain yet. My buddy and I were discussing about something and he apparently recounted a favourite spot of his out of town. At first I definitely disagreed with his thought ‘cuz that would be weary. Just so you know that I would have to venture about more than 10 Km’s to get to the spot!!

CIMG7341

In another discussion, my other friend, Nov (so-called Te) presented her suggestion about the swimming pool spot which was very near with the university we study in. In the other hand, my buddy, Jim kept his persuasion to go swimming out of town because of CHIPO. Well, we finally were brainwashed by his opinion. It would be totally a jollification to invite more friends, so that I had my close-friend, Ken join us. The day we were gonna leave for was a week before this year’s Valentine Day. That could be a medicine  for us who had no chicks or guys sitting beside us in health and sickness on VALENTINE’S DAY LOL…!!

Water was unfriendly the first time I plunged down to the pool

Water was unfriendly the first time I plunged down to the pool

A night before leaving, I set all the stuff of mine that would be used for swimming. I remembered I left my swim-suit at home, not in my wardrobe in boarding-house. Let’s keep going onto Plan B. I gotta put on my boxer shorts, instead of trunks and that was very loose even if I did put on no PANTS!! I was worrying about my CHOPPER that could be SEEN by other sluts there…LOL! Uh-oh that could be such an embarrassing experience in my life. After letting in all goods I had to bring with, it’s time to sleep tightly….

Don't you see any weirdness??Wish you didn't

Don’t you see any weirdness??Wish you didn’t

I couldn’t await this moment, enjoying days-out together. I rode my motorcycle and went straight towards my buddy’s boarding-house to pick him up. While waiting for two other-girls, I had some questions to ask to Jim. They’re about what it was like in swimming pool, was it cold or moist, or WHAT?? He told me that it might be a little bit frosty as it was rainy season. Well, be I ready for being iceberg!! And they finally got us and we all were about to go!! That was such a long road to venture.

I couldn't wait to refresh my a$$ in the water again :)

I couldn’t wait to refresh my a$$ in the water again :)

No sooner had we touched down the venue then I was so surprised to know how it was like!! It was so noiseless and not CHOCK-A-BLOCK. Nobody there, you might be able to see 3 to 7 people only. However, i was getting impatient to be shirt-off and plunge into the blue-pool. It’s a recommendation for whosoever gonna swim here that it will be more like your own private-pool when you come there early in the morning. My buddy, Jim even told me that he used to park his motors freely.

My buddy, Te taught me how to RE-SWIM

My buddy, Te taught me how to RE-SWIM

It felt awkward to swim again after it had been almost a year not to plunge into the big-water pool. I also forgot the strokes that I used to know well. I need my friend, Te to help me with these strokes. I gotta be thankful to her for her patience teaching me how to re-swim LOL…!! Like what people said that swimming provoke HUNGER!! That was still about 9am and I had been famished enough. After taking some folly pictures by the pool, we decided to find the food trucks selling menu for breakfast.

Taking some pics to wrap our days-off up in Kepanjen

Taking some pics to wrap our days-off up in Kepanjen

Because Jim knew so well about that small town that he showed us his fave spot for meal. They had so many foods on the menu that I got confusion to choose as my breakfast. Yum yum..!! I prefered the meat, eggs, and vegetables. They’re on my 1 PLATTER..!! After I had been full up, we got back to Malang. We had an afternoon class so it ain’t no worry to be late. Even though I was buggered, I was BLISSFUL!!

Pemakaian & Pelestarian Bahasa Jawa Suroboyoan Pada Masa Kini

ABSTRACT: Since the Javanese live not only around the palace of Ngayogyakarta, but also in the farther parts of the Java Island, it is obvious that the language spoken by the Javanese are not similar. Boso Suroboyoan is one of the examples. Boso Suroboyoan is known for roughness. Surabaya’s people believed that it symbolizes bravery and honesty. This kind of language is now very popular in Surabaya and some towns in East Java.

Keyword: Boso Suroboyoan, the Javanese, Surabaya

ABSTRAK: Karena orang Jawa tidak hanya tinggal di daerah sekitar Keraton Ngayogyakarta, tapi juga di bagian yang jauh di Pulau Jawa, sehingga jelas membuat bahasa yang diucapkan oleh orang Jawa juga berbeda. Boso Suroboyoan adalah salah satu contohnya. Boso Suroboyoan terkenal dengan kekasarannya. Masyarakat Surabaya menganggap ini sebagai bentuk keberanian dan kejujuran. Bahasa semacam ini sekarang sangat populer di kota Surabaya dan kota-kota sekitarnya di Jawa Timur.

Kata Kunci: Boso Suroboyoan, orang Jawa, Surabaya

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang memiliki jumlah populasi terbanyak diantara suku-suku yang ada di Indonesia. Hal ini tentu saja memberikan kontribusi terhadap bahasa yang dituturkan oleh pemakainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Sementara pemakai bahasa Jawa sendiri tersebar dari barat hingga timur Pulau Jawa.

Dengan luasnya cakupan pemakaian bahasa Jawa tersebut membuat keragaman dalam bahasa Jawa. Banyak dialek yang dituturkan berdasarkan di mana kelompok tersebut berada, meskipun ia tetap merupakan orang Jawa.

Pada awalnya bahasa Jawa yang murni adalah bahasa Jawa yang dipakai oleh orang-orang di kalangan keraton dan sekitarnya, tapi karena mobilisasi masyarakat Jawa dari wilayah keraton dan tinggal di daerah yang jauh dari wilayah keraton mengakibatkan keberagaman bahasa Jawa muncul di tengah-tengah masyarakat.

Bahasa Jawa yang dipakai oleh orang-orang keraton dan sekitarnya merupakan bahasa Jawa yang berdasarkan sistem sosial. Hal ini berarti dalam menggunakan bahasa Jawa harus memperhatikan dengan siapa ia berbicara. Pemakaian bahasa Jawa dari yang muda ke yang tua tentu saja berbeda dengan cara yang dipakai antar sesama kaum muda. Model seperti ini bertujuan untuk menghormati yang tua oleh yang muda.

Bahasa Jawa keraton tidak hanya dilihat berdasarkan usia tetapi juga kekuasaan yang dimiliki. Meskipun seseorang berumur lebih tua daripada orang yang berkuasa di keraton pada saat itu, maka ia harus mneggunakan bahasa Jawa yang halus dan sopan kepada yang berkuasa.

Hal seperti ini masih diterapkan oleh masyarakat Jawa yang tinggal di Jogjakarta, Jawa Tengah, dan sedikit bagian Jawa Timur bagian barat. Mereka masih menganggap nilai-nilai kesopanan patut untuk dijunjung tinggi di tengah-tengah perubahan zaman, meskipun dialek yang dipakai tentu saja berbeda antar satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Perubahan drastis terjadi di wilayah Jawa Timur yang memang lokasinya sudah sangat jauh dari wilayah pengaruh keraton Jogjakarta. Masyarakat Jawa Timur sendiri memiliki dialeknya yang khas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dialek adalah variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misal bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu). Dari penjelasan ini, maka dialek yang berkembang di Jawa Timur adalah dialek regional (daerah).

Menurut Soedjito (1981:2), dialek-dialek bahasa Jawa Jawa Timur yang ada, terdiri atas:

  • Subdialek Tubak, Gresik, dan Surabaya
  • Subdialek Malang, Pasuruan
  • Subdialek Banyuwangi

Dialek yang akan dibahas di sini adalah dialek yang dipakai oleh masyarakat Surabaya dan sekitarnya yang terkenal dengan kekasarannya dan keterus-terangannya. Penduduk Surabaya menganggap diri mereka berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya yang masih harus berbasa-basi untuk menyampaikan sesuatu. Orang Surabaya berterus terang dan apa adanya melalui bahasa yang mereka gunakan.

BAGIAN INTI

Masyarakat Surabaya dan sekitarnya merupakan suatu kumpulan masyarakat yang khas dan berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya. Masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-harinya mengajarkan nilai-nilai santun dalam berbuat apa saja, termasuk makan, minum, berkelakuan, dan berbahasa. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa orang Jawa sangat menghormati orang yang lebih tua sehingga dalam pemakaian bahasa pun juga memiliki kaidah.

Di sisi lain, orang Surabaya bersifat lebih bebas dan terbuka dalam penggunaan bahasa Jawa. Mereka menganggap ini sebagai bentuk dari kelugasan, keterbukaan, dan tidak basa-basi. Meskipun demikian, bahasa Jawa halus, seperti krama inggril dan madya tetap digunakan oleh beberapa orang di Surabaya dan sekitarnya untuk sekedar menghormati orang yang lebih tua, sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat Jawa umumnya.

Hanya saja di masyarakat Surabaya, kehalusan dalam berbahasa Jawa tetap saja tidak sehalus masyarakat lainnya, seperti orang Yogyakarta dan Surakarta. Kebanyakan bahasa yang ada sudah bercampur dengan bahasa kasar.

Penggunaan dialek Surabaya terbentang dari Lamongan, Gresik, Surabaya, Probolinggo, Sidoarjo, Pasuruan, sebagian Malang, hingga Banyuwangi. Luasnya pemakaian dialek Surabaya ini menimbulkan banyak media lokal yang dalam menyampaikan beritanya menggunakan bahasa Suroboyoan.

Memang terdengar kasar bagi para pendengar dan juga sedikit aneh, tapi ini adalah salah satu bentuk upaya pelestarian bahasa Suroboyoan di masa kini. Salah satu kata yang diucapkan oleh salah satu reporter berita adalah kata ‘matek’ yang berarti mati. Bagi masyarakat Jawa standar, hal ini dianggap sangat tidak sopan dan kasar.

Contoh lainnya yang membedakan bahasa Suroboyoan dengan bahasa Jawa lainnya yang ada di Jawa Timur adalah kata dunia. Di dialek Surabaya hal ini berarti ndoŋa, sedangkan di bahasa Jawa Malang dan Probolinggo adalah doŋa.

Bahasa Jawa-Suroboyoan juga banyak dikenal oleh masyarakat luas melalui salah satu lirik lagu yang khas berjudul Tunjungan, seperti berikut ini:

            Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan

            Rek ayo rek rame-rame bebarengan…

Kata rek dalam lirik lagu di atas berarti teman dalam Bahasa Indonesia dan bocah di dalam Bahasa Jawa standar. Selain contoh di atas, masih banyak lagi lainnya.

Dalam Bahasa Suroboyoan juga sangat dikenal dengan katanya yang sangat kotor, contohnya jancuk. Di dalam filosofi orang Surabaya, jancuk tak hanya berarti ‘disetubuhi’ dalam bahasa Indonesia, tapi juga bisa melambangkan persahabatan bagi yang mengucapkannya kepada sesama anggota di dalam kelompoknya.

Di masa sekarang, Bahasa Jawa-Suroboyoan sudah mengalami perubahan seiring dengan banyak nya para penduduk dari luar kota Surabaya yang datang ke kota Surabaya. Beberapa anak muda zaman sekarang dalam kesehariannya selain menggunakan Bahasa Jawa-Suroboyoan juga menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan beberapa menggunakan logat Jakarta.

Upaya Pemerintah Kota Surabaya dan pihak swasta dalam melestarikan Bahasa-Jawa Suroboyoan sebagai bagian dari kekhasan kota Pahlawan ini adalah dengan melalui media elektronik maupun cetak. Bahkan salah satu program televisi lokal dalam menyajikan acaranya menggunakan pengantar Bahasa Suroboyoan. Banyak program televisi yang menggunakan Bahasa Jawa-Suroboyoan dalam menyajikan acaranya. Selain itu juga, media cetak juga turut mewarnai upaya pelestarian bahasa Suroboyoan.

Selain dari kerjasama antara pihak swasta dan Pemkot, banyak para aktivis maupun budayawan yang memperjuangkan Boso Suroboyoan untuk tetap eksis di masyarakat. Salah satu bentuk konkretnya adalah dengan mengadakan pertunjukan budaya ludruk di aula-aula kota. Media yang dituturkan adalah menggunakan bahasa Suroboyoan. Dengan demikian, pewarisan bahasa Jawa-Suroboyoan bisa dilakukan tidak hanya melalui media massa dan cetak tapi juga bisa melalui pertunjukan seni dan budaya.

Dalam pertunjukan budaya semacam ini sebenarnya tidak hanya berupa pentransferan atau pewarisan bahasa saja, tapi juga nilai moral dan budaya. Dari hal ini bisa diketahui bahwa bahasa Suroboyoan yang terdengar kasar bagi masyarakat Jawa umumnya, ternyata juga bisa menyampaikan nilai-nilai moral kepada para penontonnya.

Selain itu, upaya kesadaran diri untuk menjaga identitas daerahnya masing-masing perlu dikembangkan asalkan tidak memunculkan sikap etnosentrisme. Sikap bangga memiliki bahasa Jawa-Suroboyoan sudah sepatutnya ditanam sejak dini, selain penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa formalitas.

 

PENUTUP

Hasil dari pembahasan di atas dapat disimpulkan dan dibuat saran sebagai berikut.

Kesimpulan

Bahasa Jawa yang berkembang di Indonesia memiliki keberagaman dialek. Hal ini bergantung pada daerah mana bahasa Jawa itu berada. Bahasa Jawa yang berada di daerah sekitar keraton masih berupa Bahasa Jawa yang standar dan halus, sedangkan Bahasa Jawa yang dituturkan oleh masyarakat yang tinggal jauh dari daerah keraton, seperti Surabaya sudah memiliki perbedaan.

Bahasa Jawa-Suroboyoan dikenal dengan ketegasan, kelugasan, dan terus-terang (Wikipedia). Banyak masyarakat Jawa pada umumnya menganggap Bahasa Jawa yang dituturkan oleh orang Surabaya dan sekitarnya adalah yang paling kasar. Meskipun demikian, hal ini merupakan salah satu identitas daerah yang patut dilestarikan.

Perubahan zaman di masa sekarang bisa saja mengubah struktur bunyi bahasa Jawa-Suroboyoan. Oleh karena itu, diperlukan upaya konkrit dan kerjasama antar pemerintah dan masyarakat untuk tetap melestarikan Bahasa Suroboyoan.

Selain sebagai bahasa keseharian, Bahasa Suroboyoan juga memiliki peran dalam pewarisan nilai-nilai moral kepada para generasi muda. Hal ini terbukti melalui diadakannya pertunjukkan Ludruk. Bahasa Suroboyoan juga bisa diketahui melalui media massa maupun cetak yang ada. Mereka juga turut berupaya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa Bahasa Jawa-Suroboyoan merupakan ciri khas dari Surabaya dan sekitarnya.

Saran

Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan universal manusia, maka sepatutnya kita sebagai manusia melestarikan bahasa itu. Bahasa yang tidak memiliki penuturnya bisa disebut dengan bahasa mati. Hal ini tentu saja tidak pernah diinginkan oleh satu orang pun, sebab bahasa melambangkan indentitasnya.

Begitupula dengan Bahasa Jawa-Suroboyoan yang sekarang sudah banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa dari luar. Hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan, sebab seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bahasa juga melambangkan identitasnya.

Kita sebagai generasi muda hendaknya melestarikan Bahasa Jawa-Suroboyoan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya dalam percakapan antar sesama teman di manapun kita berada. Hal ini dikarenakan dalam percakapan menggunakan Bahasa Jawa-Suroboyoan di suatu lingkungan tertentu berbeda ketika dilakukan di lingkungan lainnya karena tekanan sosial yang membuatnya berubah, contohnya percakapan di pasar dan kemudian berubah di mall.

Kita sepatutnya bangga dengan bahasa kita dan bukan malu atas apa yang memang itu adalah milik kita. Sesuai dengan prinsip arek suroboyo yang tegas dan tanpa basa-basi, kita pasti bisa melestarikan Boso Suroboyoan tanpa pikir panjang lagi.

DAFTAR RUJUKAN

Pemerintah Kota Surabaya. 2012. Profil Kota: Kebudayaan, (Online), (http://www.surabaya.go.id/dinamis/?id=43), diakses 8 Desember 2012.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. KBBI Daring, (Online), (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php), diakses 8 Desember 2012.

Soedjito, dkk. 1981. Sistem Morfologi Kata Kerja Bahasa Jawa Dialek Jawa Timur. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wikipedia Ensiklopedia Bebas. 2012. Bahasa Jawa Surabaya, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Surabaya), diakses 8 Desember 2012.

© 2012

Stay (Covered) Available for Listen and Download

This moment is what I have been waiting for and now it absolutely becomes so real !! Stay by Rihanna feat. Mikky Ekko that I covered few weeks ago before Christmas hits the end of 2012 is now AVAILABLE BOTH FOR LISTEN & DOWNLOAD on SoundCloud. It is 100% free downloadable!

In case you missed the latest news (NO actually b/c it was released a week before Christmas tbh) that the music video of Stay (Covered) has already been available on Youtube !! See the previous post!

Story of 2012

2012 is almost on the edge of the CLIFF!! I can’t wait to open and write more for 2013 which will be coming in a few weeks. Before I start out this new journey, I want to show you something…..NO!! I mean 2 THINGS!! I used to write down all the summary annually, but this year I put my eyes on making short videos. The first one is the music video I produced and directed by myself!!

This video contains a single of Rihanna’s 7th studio album ‘UNAPOLOGETIC’, Stay. What you gonna hear and see is me, NO FAKING dude.

The other video you gonna watch is the gratitude as well as the review of the year 2012.

 

Pengaplikasian Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia Masa Kini

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

 

         Masalah hak cipta di Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru, sebab hal ini sudah ada sejak awal abad ke 20 atau pada saat Indonesia masih di bawah kolonialisme Belanda. Sebelum negara kita memerdekakan diri dari Indonesia, kita menggunakan ketentuan hak cipta yang diatur dalam Auteurswet Staatsblad No. 600 Tahun 1912.

           Sesudah merdeka, Indonesia membuat undang-undangnya sendiri mengenai hak cipta karena Auteurswet dianggap sudah tidak bisa mengikuti perkembangan yang ada atau biasa disebut ‘ketinggalan zaman’. Oleh karena itu, Pemerintah bersama dengan DPR merumuskan UU No. 6 Tahun 1982. Lagi-lagi undang-undang ini tidak membuat para pelaku tindak kejahatan dalam hak cipta menjadi semakin takut, melainkan semakin banyak kasus-kasus pelanggaran yang mencuat di publik. Keadaan yang demikian tentunya membuat kerugian bagi banyak pihak. Untuk menyelamatkan negara dari keadaan seperti ini dan “menyelamatkan wajah negara kita di  dalam pergaulan internasional, UU No. 6 Tahun 1982 kemudian diubah dengan  UU No. 7 Tahun 1987 yang secara singkat disebut dengan UUHC”(Supramono, 1989:6).

               Perubahan yang mencolok dari UU No. 6 Tahun 1982 menjadi UU No. 7 Tahun 1987 adalah hukuman yang bisa dijatuhkan kepada para pelaku pembajakan. Hukum pidana penjara dan pidana denda bisa dijatuhkan secara bersamaan sesuai dengan UUHC. Kemudian dilakukan lagi perubahan  dan tambahan pengaturan hak cipta yang dituangkan dalam UU No. 12 Tahun 1997 seiring dengan keikutsertaan Indonesia dalam WTO inklusif Persetujuan TRIPs.

                 Karena semakin banyaknya karya seni dan budaya yang berkembang di Indonesia, maka diperlukanlah penggantian UU No. 12 Tahun 1997 dengan UUHC yang baru. UU No. 19 Tahun 2002 menggantikan UUHC sebelumnya karena dianggap perlu dan juga untuk mendukung iklim persaingan yang sehat dalam dunia karya cipta Indonesia serta berfungsi untuk melaksanakan pembangunan Indonesia. Namun bagaimana penerapan UUHC tersebut di masa kini perlu ada kajian khusus.

B. Rumusan Masalah

 

  1. Bagaimana penerapan UUHC di Indonesia masa kini?
  2. Apakah masih banyak ditemui kasus-kasus pelanggaran hak cipta?
  3. Apa sajakah usaha konkrit Pemerintah Indonesia dalam mengurangi angka pembajakan?
  4. Apakah peran masyarakat sangat berpengaruh dalam pemberantasan pelanggaran hak cipta?

           Teknik penulisan makalah ini berpedoman pada Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (UM, 2010).

 

BAB 2

PEMBAHASAN

A.Penerapan UUHC di Indonesia Masa Kini

           Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar di dunia. Jumlah penduduk yang sangat besar tentu saja tidak bisa dilepaskan dengan hasil kebudayaan yang ikut tumbuh dengan banyak penduduk. Hasil kebudayaan itu bisa berupa musik, seni kriya, seni sastra, dan lain-lain.Selain itu, “karya cipta tidak lagi sekedar lahir karena semata-semata hasrat, perasaan, naluri, dan untuk kepuasan batin penciptanya sendiri tetapi dilahirkan karena keinginan untuk mengabdikan kepada suatu nilai atau sesuatu yang dipujanya kepada lingkungan maupun kepada manusia di sekelilingnya” (Simatupang, 2003:68). Hal-hal semacam ini tentunya patut mendapatkan perlindungan dari pemerintah agar tidak ditiru oleh orang lain.

           Pada masa sekarang, masih banyak orang yang belum memahami makna tentang Hak Cipta. Disebutkan dalam UU No 19 Th. 2002 pasal 1 Tentang Hak Cipta bahwa hak cipta adalah hak ekslusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

           Masih banyak ditemui kasus-kasus pelanggaran yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh kelompok tertentu terhadap karya seseorang. Banyak

penyebab yang menjadikan pembajakan semacam ini bisa menyebar luas di Indonesia, terutama di bidang teknologi. Penyebab-penyebab itu antara lain;

  1. kurangnya kesadaran akan pentinganya hak cipta di kalangan masyarakat Indonesia
  2. motif ekonomi yang memaksa masyarakat untuk melakukan pelanggaran hak cipta
  3. aksesibilitas yang lebih mudah

Dengan keuntungan yang demikian besar dan modal kecil yang dibutuhkan untuk menjual produk bajakan ke para pelanggan, menjadikan kasus-kasus semacam ini menjadi tumbuh subur di kalangan masyarakat. Meskipun undang-undang telah dibuat, sepertinya hal itu tidak membuat jera para pelaku pembajakan.

Di dalam UU No. 19 Tahun 2002 pasal 66 bahkan disebutkan bahwa hak untuk mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, Pasal 56, dan Pasal 65 tidak mengurangi hak Negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran Hak Cipta. Hal ini berarti “pelaku pelanggaran hak cipta, selain dapat dituntut secara perdata, juga dapat dituntut secara pidana” (Rachmadi, 2003:159).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan di dalam bidang ilmu pengetahuan, seni serta sastra seperti yang tertuang di dalam UU No. 19 Tahun 2002 Pasal 11 Tentang Hak Cipta.

Dalam UUHC 2002 juga ditegaskan bahwa Hak Cipta tidak berarti mutlak. Maksudnya, hak-hak kepentingan umum juga diperhatikan selain hak individualitas. Terutama dalam hal ini adalah ciptaan yang dianggap bisa mengganggu dan mencelakakan orang banyak. Hal ini juga dipertegas lagi dalam sistem demokrasi kita yang “memberi gambaran tentang adanya tujuan yang ingin dicapai oleh negara melalui hak-hak individual sesuai dengan asasinya dalam koridor manajemen nasional” (Sumarsono, dkk, 2002:33)

Dari paparan di atas, bisa diketahui bahwa hukum di Indonesia sudah jelas dalam mengatur Hak Cipta. Hal ini lebih baik daripada beberapa puluh tahun yang lalu. Meskipun begitu tingkat pembajakan di Indonesia tetap saja tinggi.

B. Kasus-Kasus Pelanggaran Hak Cipta

 

           Di Indonesia banyak ditemui kasus-kasus pelanggaran hak cipta yang dilakukan baik di bidang musik, teknologi, dan lain-lain. Bahkan di salah satu media surat kabar online menyatakan bahwa “Indonesia menempatiperingkat ke-11 denganjumlahperedaran software bajakansebesar 86 persen, dengan nilai kerugian 1,46 miliardolar AS atauRp 12,8 triliun” (Kompas, 11 Juli 2012). Hal ini sungguh memprihatinkan mengingat Indonesia sudah memiliki undang-undang yang harusnya bisa mengurangi tingkat pembajakan di segala bidang. Banyaknya amandemen yang dilakukan oleh pemerintah demi mempertegas kedudukan Hak Cipta dari masa ke masa tidak juga menyurutkan aksi-aksi tercela ini.

           Kasus pembajakan paling banyak menimpa di dunia musik dan teknologi atau peranti lunak. Tindakan tersebut memberikan kerugian yang cukup besar bagi para penciptanya karena buah pemikirannya harus dirampas oleh orang lain tanpa seizinnya.

           Salah satu contoh kasus yang tidak bisa dikesampingkan adalah kasus yang menimpa novelis ternama Indonesia, Dewi ‘Dee’ Lestari. Dee yang terkenal dengan novel ‘Perahu Kertas’ mengatakan bahwa novel ‘Perahu Kertas’ miliknya dibajak oleh orang lain tanpa sepengetahuan dirinya.  Hal ini tentu saja menimbulkan kekecewaan di diri Dee. Pada saat itu Dee merilis novelnya dalam dua versi, yakni konvensional dan digital. Dari penjualan secara digital ternyata aksi pembajakan itu mulai dilakukan dengan cara mengubah format digitalnya ke dalam bentuk pdf (Tribunnews.com, 20 November 2012).

           Kekecewaan ternyata tidak hanya menimpa Dewi Lestari. Pada bulan Mei tahun 2012, banyak musisi yang mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atas pengunduhan musik mereka secara ilegal di Internet. Pihak label menyebut angka kerugianlebih dari Rp 1 triliun dari praktek ini per bulan (Liputan6.com, 15 Mei 2012).

           Di Situbondo juga terjadi penangkapan oleh polisi terhadap dua pelaku penjual VCD dan DVD bajakan pada 10 November 2011. Dari tangankeduatersangka, disitabarangbuktiratusankeping VCD dan DVD (Liputan6.com, 11 November 2011).

           Dunia teknologi juga tidak luput dari aksi pembajakan.MenurutPresiden Microsoft Indonesia, “produk Microsoft menguasai sekitar 97 persen pasar perangkat lunak di Indonesia. Sayangnya, sekitar 86 persen pengguna menggunakan perangkat lunak atau software bajakan atau tanpa lisensi” (Sidomi.com, 8 November 2012).

           Dengan meningkatnya kasus pembajakan software di Indonesia pada akhirnya tidak hanya menimbulkan kerugian terhadap perusahaan, tapi juga kerugian pada negara. “Karena pembajakan membuat hilangnya pajak bagi negara akibat pengguna software bajakan tidak membaya rpajak” (Jawa Pos National Network, 8 November 2012)

           Dari semua kasus yang mencuat di publik, ternyata masih banyak kasus yang tidak diberitakan ke masyarakat karena banyaknya kasus-kasus pelanggaran hak cipta di tanah air. Hal ini membuktikan bahwa penegakan hukum bukan hanya tindakan yang dibutuhkan untuk menanggulangi kasus semacam ini, tapi juga diperlukan rasa kesadaran masyarakat, agar bersama-sama dengan aparat penegak hukum bisa memberantas tindakan kejahatan tersebut.

           Dalam UU no. 19 Tahun 2002 pasal 72 ayat 1 Tentang Hak Cipta bahkan disebutkan.

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

           Dengan demikian, segala bentuk pelanggaran Hak Cipta, khususnya di bidang musik, sinematografi, dan program komputer akan ditindak tegas dengan diberlakukannya pasal ini.

C. Usaha Konkrit Pemerintah Indonesia dalam Mengurangi Angka Pembajakan

           Dengan diadakannya perubahan dari masa ke masa mengenai UUHC membuktikan bahwa pemerintah sudah tegas dalam menegakkan keadilan di bidang hak cipta. Namun, hal ini tidak dibarengi dengan upaya yang sangat tegas dari para aparatur negara.

           Salah satu tindakan yang telah dilakukan langsung oleh Presiden dalam menangani kasus semacam ini adalah membentuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, merupakan hal positif dalam menaungi industry musik (Tribunnews.com, 24 November 2012). Namun, di sisi lain Pemerintah Indonesia tidak melakukan tindakan lain yang sangat signifikan dalam mengurangi pembajakan, terutama di bidang musik, yaitu menutup situs-situs unduhan ilegal.Masih banyak ditemui situs-situs yang menyediakan konten ilegal tanpa sepengetahuan dari pihak musisi ataupun label yang menaunginya.

                Tindakan terbaru yang sangat menggebrak adalah ketika Majelis Ulama Indonesia bekerjasama dengan Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM dan organisasi Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan mengeluarkan fatwa haram terhadap pembajakan hak cipta di tanah air. Sementara itu, MIAP bekerjasama dengan Direktorat Jenderal HKI Kementerian Hukum& HAM dan Mabes Polri beserta pengelola mal di sejumlah kota besar menggelarsosialisasi program Mal IT Bersih (detikSurabaya, 6 November 2012). Tindakan ini diharapkan bisa menggugah kesadaran penjual dan konsumen untuk mengutamakan pentingnya menggunakan barang asli.

D. Peran Masyarakat dalam Pemberantasan Pelanggaran Hak Cipta

      Selain diperlukan penegakan aparat hukum dalam memberantas kasus-kasus pelanggaran hak cipta, kontribusi masyarakat juga cukup besar untuk mengatasi kasus serupa.

    Masyarakat sebagai konsumen tentu saja merupakan faktor terbesar untuk memberantas pembajakan. Apabila konsumen sadar akan dampak menggunakan barang bajakan yang tersedia secara luas di pasaran, maka bisa dipastikan jumlah penjual bajakan akan menurun mengingat tidak ada orang satupun yang mau membeli barang bajakan mereka. Di sini lebih ditekankan kepada kesadaran pada diri masyarakat untuk tidak mengedarkan atau membeli suatu produk secara ilegal.

   Selain itu, masyarakat hendaknya melapor kepada aparatur negara apabila menemukan kios-kios yang baik tersembunyi ataupun terang-terangan terbukti menjual barang bajakan atau tidak sesuai dengan hak izin.

  Kerjasama antar masyarakat dan pemerintah dalam memberantas hal-hal yang berkenaan dengan pelanggaran hak cipta akan bisa terwujud apabila dalam tindakan tersebut tidak melibatkan apapun atau ‘bersih’ dari segalanya.

 

BAB 3

PENUTUP

A.Kesimpulan

           Dari makalah ini bisa diambil kesimpulan bahwa praktek Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia masih menunjukkan keprihatinan terhadap karya-karya anak bangsa. Meskipun telah banyak dilakukan amandemen terhadap UUHC, dari Auteurswet hingga UUHC 2002 tetapi masih sedikit orang yang paham akanisi UU tersebut.

        Pemerintah Indonesia harus lebih mempertegas tindak lanjut terhadap kasus-kasus yang baik bermunculan di media massa elektronik maupun cetak dan yang tidak terungkap di keduanya mengenai pembajakan. Pembajakan yang dilakukan oleh individu ataupun suatu kelompok tertentu pada dasarnya sama-sama memberikan kerugian yang besar terhadap negara.

     Selain dari Pemerintah Indonesia, peran aktif warga negara dalam memberantas kasus pelanggaran Hak Cipta juga patut dipertimbangkan, sebab masyarakatlah yang menjadi ‘sasaran utama’ atas barang-barang bajakan.

 

B. Saran

 

       Dari banyak kasus pembajakan atau pelanggaran Hak Cipta, hendaknya Pemerintah berupaya menindak tegas terhadap siapapun yang melakukannya. Pemerintah Indonesia juga harus lebih banyak mensosialisasikan mengenai Hak Intelektual sehingga masyarakat akan menjadi sadar akan pentingnya Hak Cipta.

           Setiap aksi pemberantasan pembajakan atas suatu karya hendaknya tidak ikut terintimidasi oleh pihak manapun. Segala usaha harus dilakukan dengan bersih tanpa ikut campur oleh ‘uang’. Apabila ini diterapkan, kemungkinan pemberantasan pelanggaran Hak Cipta bisa dilakukan dengan baik dan cepat.

          Pemerintah Indonesia juga harus membuat denda yang lebih besar kepada tiap aksi kejahatan Hak Cipta, sehingga diharapkan bisa memberi efek jera kepada pelakunya.Masyarakat hendaknya menjadi warga negara yang responsif terhadap segala sesuatu yang berbau ‘palsu’. Masyarakat juga harus sadar bahwa membeli barang bajakan adalah tindakan yang merugikan pencipta karya itu dan juga negara.